Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2009

Narnia 2: Prince Caspian



NARNIA 2 : PRINCE CASPIAN

THE CHRONICLES OF NARNIA: PRINCE CASPIAN merupakan serial film yang diangkat dari novel fantasi karya C.S. Lewis, di mana sebelumnya telah dirilis THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE (2005). Bukunya sendiri terdiri dari tujuh buku dan ditujukan untuk anak-anak, yang mulai ditulis pada 1950 sampai 1956. Dalam buku itu mengandung unsur mitologi Kristen, Yunani dan Romawi, serta dongeng Inggris dan Irlandia.

Peter, Susan, Edmund, dan Lucy Kembali lagi ke tanah Narnia setelah 1 tahun kembali ke dunia mereka. Dalam masa yang setara dengan 1.300 tahun Narnia itu banyak hal telah yang berubah. Narnia yang sebelumnya berada dalam puncak kejayaannya sekarang berada di bawah tirani Raja Miraz yang merebut kekuasaan dari tangan Pangeran Caspian.

Raja Miraz yang membunuh ayah Pangeran Caspian masih merasa terancam dengan masih hidupnya sang pangeran. Ia berencana untuk menghabisi Pangeran Caspian agar tahta yang ia pegang nanti akan jatuh ke tangan anaknya. Untungnya Pangeran Caspian berhasil meloloskan diri dan bergabung dengan para makhluk dan binatang yang hidup dalam persembunyian.

Dengan bantuan para makhluk itu, Pangeran Caspian membangun tentara untuk menghadapi tentara Raja Miraz yang terkenal kejam. Walaupun pada awalnya, pasukan Pangeran Caspian sempat mengalami kekalahan karena kesalahan strategi, namun dengan bantuan Peter, Susan, Edmund, dan Lucy angin segar kini berada di pihak Pangeran Caspian.

Sekuel dari THE CRONICLES OF NARNIA ini masih diadaptasi dari novel karya C.S Lewis bahkan naskah film ini sudah ditulis sebelum THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE dirilis. Andrew Adamson sang sutradara bermaksud menggunakan casting yang sama sehingga film sekuel ini harus dibuat sebelum para pemain menjadi terlalu tua untuk peran yang mereka bawakan.
Film ini banyak mendapat pujian dari para kritikus film. Permainan keempat pemeran utama dalam sekuel kedua ini jauh lebih baik. Penggunaan special effect dan dan penggarapan setting pun jauh lebih menarik untuk dinikmati. Bila dibanding dengan sekuel pertamanya, film ini terasa lebih suram dan tak lagi menampakkan unsur keluguan seperti sebelumnya.

Harry Potter And The Half Blood Prince



HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE

Harry Potter (Daniel Radcliffe) menyadari bahwa ancaman Lord Voldemort belumlah usai. Walaupun keadaan cukup tenang dan aman namun Harry yakin bahwa musuh besarnya ini sedang merencanakan sesuatu. Harry bahkan yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam Hogwarts.

HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Bersama gurunya, Dumbledore (Michael Gambon) dan Professor Horace Slughorn (Jim Broadbent), Harry pun mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan terakhir dengan Voldemort. Di saat yang sama, Harry menemukan sebuah buku ramuan sihir milik seseorang bernama Half-Blood Prince. Dari buku ini, Harry kemudian mempelajari banyak ramuan sihir yang berguna bahkan beberapa cenderung membahayakan.

Di sisi lain, Harry yang mulai menginjak dewasa terlibat cinta segitiga antara Ginny Weasley (Bonnie Wright) dan Dean Thomas (Alfie Enoch). Kini tantangan yang dihadapi Harry jadi jauh lebih berat. Di saat ia mulai merasakan beratnya masa peralihan menjadi dewasa, ia harus mempersiapkan diri menghadapi Voldemort yang berencana menguasai seluruh dunia.
HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Secara umum, bagian keenam dari film Harry Potter ini terasa lebih suram daripada lima film sebelumnya. Baik dari nuansa cerita maupun dari teknik pewarnaan terlihat bahwa David Yates, sang sutradara, ingin menonjolkan kesan suram ini. Hampir di sepanjang film, warna-warna suram mendominasi dan malahan ada beberapa bagian yang cenderung mengarah ke film hitam putih.

Film ini juga menandai peralihan antara kisah remaja yang mulai bergeser masuk alam dewasa. Hubungan antar karakter digambarkan makin kompleks dan tak lagi sederhana seperti sebelumnya. Namun pergeseran ini juga yang membuat film ini jadi makin membingungkan buat penonton yang tak pernah terlibat dengan cerita Harry Potter sebelumnya. Ditambah lagi dengan beberapa bagian yang berkesan mengambang tanpa penjelasan, lengkap sudah masalah yang dihadapi penonton baru ini.

HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Di sisi lain, buat mereka yang sudah akrab dengan Harry Potter, film ini juga menjadi titik balik di mana film tak lagi sepenuhnya berpijak pada novel sumber aslinya. Kekecewaan para fans berat Harry Potter tak bisa disalahkan karena ada bagian penting dari novel ini yang tak dituangkan ke layar lebar.
Dari seluruh aspek yang ada, bisa jadi suguhan visual adalah bagian paling menarik dari film ini. Kelebihannya bukan dari canggihnya special effect yang digunakan namun pada efektivitas dari efek yang mereka gunakan. Meski tak terlalu muluk-muluk namun kesan yang tertangkap justru adalah kewajaran dalam keajaiban yang terjadi itu.