Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2009

Iron Man



IRON MAN
Superhero Iron Man dari komik karya Marvel akhirnya diboyong ke layar lebar. Tokoh manusia berbaju besi yang kali pertama diterbitkan pada Maret 1963 ini berkisah tentang seorang miliuner genius pemilik pabrik senjata Tony Starks (Robert Downey Jr.) yang diculik oleh kawanan teroris dan dipaksa untuk membuat sebuah senjata pemusnah massal yang baru saja diproduksi oleh perusahaan Stark.

Awalnya, Tony yang terluka karena sebuah ledakan diselamatkan oleh para teroris yang akhirnya malah menawan Tony untuk tujuan membuat senjata bernama rudal Jericho itu. Di dalam tawanan ini, Tony yang terluka diselamatkan oleh Yinsen (Shaun Toub) yang membuatkan sebuah alat untuk menahan pecahan peluru yang ada di tubuh Tony.

Awalnya Tony Stark menolak tuntutan para teroris itu namun setelah mendapat siksaan dari para teroris itu, Tony setuju walaupun sebenarnya ia punya rencana sendiri. Dengan bantuan Yinsen, Tony membuat baju zirah yang dilengkapi dengan beberapa senjata dan roket. Rencananya, Tony akan memakai armor itu untuk membebaskan Yinsen dan dirinya dari para teroris.

Sayangnya rencana itu harus gagal karena para teroris keburu menyerbu masuk karena curiga dengan usaha Tony. Yinsen tewas dalam usaha untuk mengulur waktu agar Tony sempat masuk ke dalam baju besinya.

Tony berhasil lolos dan ditemukan para tim pencari yang menyisir gurun setelah peristiwa penyerangan pada rombongan Tony. Tony yang masih dalam kondisi buruk berhasil kembali ke Amerika Serikat setelah 1 minggu dinyatakan hilang.

Sekembalinya Tony ke Amerika, pengusaha senjata itu memutuskan untuk berhenti memproduksi senjata karena menyadari bahwa selama ini senjata produksi perusahaannya telah dipergunakan oleh para teroris untuk menyebar mala petaka. Ide ini ditolak mentah-mentah oleh Obadiah Stane (Jeff Bridges) yang menjadi mitra Tony. Tony kemudian disarankan untuk beristirahat dulu dari aktivitas bisnis.

Ternyata Obadiah memanfaatkan waktu ini untuk memproduksi senjata dan menjualnya ke para teroris yang sanggup membayar mahal untuk senjata produksi Stark. Tony tidak menyadari ini dan menyibukkan dirinya menyempurnakan baju besi yang digunakannya untuk meloloskan diri dari para teroris. Di saat yang sama Tony juga menyempurnakan alat yang diciptakan Yinsen untuk menyelamatkan dirinya.

Saat melihat di TV terjadi kerusuhan yang terjadi di sekitar daerah tempat Tony dulu disandera, Tony terpanggil untuk datang menyelamatkan para penduduk setempat. Tony pun lalu masuk ke dalam baju besinya dan muncul sebagai penyelamat.

Di saat yang hampir bersamaan, para teroris ternyata berhasil menemukan baju besi yang digunakan Tony untuk meloloskan diri dan memberikannya pada Obadiah. Obadiah lalu membuat teknologi yang sama, bahkan lebih canggih untuk menghadapi Tony Stark yang dianggapnya akan menghalangi usahanya dalam bidang jual beli senjata.

Mau tak mau, Tony yang kini menjadi Iron Man harus menghadapi Obadiah yang kini telah menciptakan baju super yang disebutnya Iron Monger.

Hollywood tampaknya masih tak bosan mengadaptasi tokoh komik ke dalam film-film mereka. Kali ini tokoh superhero Iron Man yang difilmkan. Bila dibandingkan dengan beberapa film senada, film ini tampak disajikan lebih baik walaupun mungkin belum sebagus BATMAN BEGINS.
Humor-humor segar yang terselip di beberapa adegan membuat film ini jadi enak untuk dilihat. Sayangnya angle pengambilan gambar terasa biasa-biasa saja. Tidak ada kesan apa pun yang terasa dari gambar-gambar yang disajikan.

Dari sisi cerita memang tak banyak yang bisa diharapkan, hampir semua film bergenre ini selalu mudah ditebak endingnya. Untungnya acting Robert Downey Jr, Terrence Howard, Gwyneth Paltrow, dan Jeff Bridges masih bisa membuat kita bertahan duduk menunggu film berakhir. Masing-masing tampak perfect membawakan peran mereka.

Proses adaptasi Tony Stark pada baju besinya pun membuat jalan cerita seolah wajar dan tidak dipaksakan. Walaupun penggarapan CGI-nya layak mendapat jempol, tapi ada beberapa adegan yang masih terasa mengganjal logika.

Sabtu, 10 Oktober 2009

The Happening



THE HAPPENING
Virus aneh yang menyebar lewat udara menyerang kota Philadelphia. Tak ada yang bisa lolos dari serbuan virus aneh ini. Korban telah berjatuhan di banyak tempat. Virus aneh ini membawa dampak buruk buat manusia. Yang tertular virus ini akan melakukan bunuh diri bahkan tanpa sebab yang jelas.

Elliot Moore (Mark Wahlberg) seorang guru ilmu pengetahuan alam berusaha membawa istrinya Alma (Zooey Deschanel) melarikan diri dari wabah yang belum jelas asal-usulnya itu. Dengan mengendarai mobil menuju luar kota, Elliot berharap selamat dari wabah itu. Atau setidaknya untuk sementara waktu.

Tidak ada yang tahu pasti seberapa jauh virus itu telah menyebar, dan masih adakah tempat yang aman untuk berlindung dari serbuan virus ganas tersebut. Bahkan pihak berwenang pun tidak mengetahui asal muasal virus ini dan bagaimana cara bekerjanya.

Sutradara M Night Shyamalan memang sering menggali topik-topik yang tidak umum. Film-film karyanya cenderung membuat penonton berpikir keras akan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Film ini juga bukan pengecualian. Ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan Shyamalan dalam balutan cerita horor ini.

Sayangnya, beberapa detail dari film ini justru membuat orang semakin bingung dan tak mengerti jalan cerita dari film ini. Entah karena kesengajaan atau karena kesalahan memasukkan detail yang malah tak bisa dijawab oleh ending cerita, yang jelas ada beberapa scene yang jadi tak logis lagi dalam jalinan cerita.
Mungkin ada penonton yang berharap bahwa Shyamalan akan 'menipu' mereka lagi seperti dalam kasus film THE SIXTH SENSE. Tapi saat film berakhir, tak ada kesimpulan yang menjawab semua pertanyaan yang ada di sepanjang film. Dan yang jelas tak ada twisted plot seperti dalam THE SIXTH SENSE.

Peran Mark Wahlberg dan Zooey Deschanel pun tak terlalu mengagumkan dalam film ini. Bahkan dialog-dialog yang mereka bawakan terdengar cukup konyol dan tak alami. Entah karena Mark yang tak mampu menghayati naskah atau sang sutradara yang tak bisa mengarahkan aktor dan aktris dalam membawakan dialog tersebut.

Akhirnya film ini tak jauh beda dengan THE VILLAGE dan LADY IN THE WATER yang mengecewakan. Atau mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna dan memahami cara berpikir M Night Shyamalan agar bisa menikmati film ini.

Transporter 3



TRANSPORTER 3
Frank Martin (Jason Statham) mau tak mau harus menjalankan tugas yang diberikan kepadanya meski kali ini tugas itu jauh lebih tinggi resikonya. Frank harus mengantar paket ke tujuan yang belum jelas sementara di saat yang sama Frank juga harus mempertaruhkan nyawa lantaran di pergelangan tangannya di pasang gelang yang akan meledak jika ia berada di lokasi yang terlalu jauh dari mobilnya.


Kali ini paket yang harus diantarkan Frank adalah seorang gadis bernama Valentina (Natalya Rudakova). Valentina adalah putri seorang politisi kuat di sebuah negara di benua Eropa. Valentina diculik komplotan mafia dan memaksa Frank untuk mengantarkan ke sebuah lokasi yang akan dijelaskan saat Frank sudah berada dalam perjalanan.

Dalam perjalanan panjang yang berbahaya ini Frank tidak hanya berusaha untuk tetap 'dekat' dengan mobilnya namun juga harus menghindar dari orang-orang yang dikirim Leonid Vasilev (Jeroen Krabbe), ayah Valentina yang berusaha menggagalkan misi Frank.

Installment ketiga dari TRANSPORTER ini masih mengusung cerita yang tak jauh berbeda dengan dua film sebelumnya. Ide cerita yang diusung pun bisa dikatakan jauh dari kata fresh. Beberapa film lain dari genre film laga juga mengusung alur cerita yang kurang lebih sama meski dengan beberapa bumbu yang membuatnya sedikit saja beda.


Jadi, satu-satunya pilar film ini adalah aksi laga tanpa henti yang memang jadi suguhan utama film ini. Dari awal hingga akhir bisa dibilang hanya suguhan full action saja yang disajikan film ini. Bahkan saking inginnya menyajikan aksi laga yang spektakuler, sang sutradara sampai mengabaikan konsep ketaatan pada logika yang mau tak mau sebenarnya harus menjadi dasar sebuah film.

Bila Anda teliti atau meluangkan sedikit waktu untuk 'meneliti' tiap-tiap adegan, Anda pasti akan menemukan banyak sekali kejanggalan yang membuat alur cerita film ini jadi kehilangan pijakan. Setidaknya Anda akan merasakan bahwa beberapa adegan, alur cerita atau penokohan jadi tak masuk akal.


Singkatnya, bisa dibilang bahwa alur cerita film ini hanya dibuat untuk menyatukan serangkaian aksi laga yang disajikan film ini sementara dari sisi akting, para pemainnya juga tak terlalu meyakinkan. Entah karena naskah yang buruk atau para aktor yang tak mampu 'menghidupkan' dialog, tapi ada kesan bahwa para aktor hanya sekedar membaca naskah yang telah disusun sebelumnya.

Tapi meskipun begitu, toh film yang diedarkan Lionsgate ini berhasil masuk jajaran 10 besar film-film box office dan telah mengantongi tak kurang dari US$29 juta sejak diedarkan 26 November lalu. Kabarnya film ini dibuat dengan biaya sekitar US$45 juta.

2012: Doomsday


2012; DOOMSDAY

Dalam kalender bangsa Maya disebutkan bahwa kehidupan di dunia ini akan musnah pada tahun 2012. Pada saat itu, dunia akan dilanda bencana besar dan kekacauan terjadi di mana-mana yang mengakibatkan musnahnya ras manusia. Jackson Curtis (John Cusack) yang yakin ramalan itu akan terjadi berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hal ini.

Berbekal pengetahuannya tentang ramalan kuno itu, penulis yang juga adalah seorang peneliti ini kemudian mencari cara untuk membuka portal antar dimensi untuk menemui 'dirinya yang lain' di dimensi itu. Jackson yakin bahwa menembus batas dunia paralel ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya bencana yang telah diramalkan bangsa Maya itu.

Masalahnya adalah Jackson harus melakukan itu sebelum tanggal 21 Desember 2012 karena dalam penanggalan Maya tak ada tanggal setelah tanggal itu. Mampukah Jackson menjalankan misi kemanusiaan itu dan mencegah terjadinya sesuatu yang telah digariskan sebelumnya?

Watchmen




WATCHMEN

Pemerintah AS yang semula membiarkan para superhero beraksi bebas, memutuskan untuk membubarkan kelompok superhero yang menamakan diri mereka Watchmen ini. Semua bekas anggota Watchmen kemudian di bebaskan dari tugas kecuali Edward Blake alias The Comedian (Jeffrey Dean Morgan) dan Dr. Jon Osterman atau yang lebih dikenal sebagai Doctor Manhattan (Billy Crudup).


Para superhero yang lain memutuskan untuk mengakhiri kisah kepahlawanan mereka dan mencoba beradaptasi menjadi masyarakat biasa. Di sisi lain, Walter Kovacs atau yang lebih dikenal sebagai Rorschach (Jackie Earle Haley) memutuskan untuk tetap memerangi kejahatan secara sembunyi-sembunyi.

Tak beberapa lama kemudian terjadi kasus misterius saat salah satu mantan anggota Watchmen yang bernama The Comedian ditemukan tewas dibunuh. Rorschach yakin kawannya ini dibunuh sebagai bagian dari rencana melenyapkan seluruh mantan anggota Watchmen yang tersisa. Tak satu pun percaya sampai Adrian Veidt yang punya identitas lain Ozymandias menghadapi usaha pembunuhan yang sama meski ia pada akhirnya lolos. Kini sisa anggota harus mulai bersatu atau mereka akan dibantai habis seperti dugaan Rorschach.


Film yang mengambil setting tahun 80-an ini adalah adaptasi dari komik karya Alan Moore dan Dave Gibbons yang hanya terdiri dari 12 seri. Walaupun Watchmen ini masih mengambil tema superhero namun hanya 1 orang dari kelompok ini yang memiliki kekuatan superhero. Lainnya hanyalah manusia biasa yang memerangi kejahatan dengan mengenakan kostum dan topeng.

Di Indonesia sendiri nama Watchmen pasti terdengar aneh karena komik-komik ini tak beredar di sini. Jadi bisa diasumsikan bahwa hampir semua penonton di Indonesia tak mengenal nama-nama anggota Watchmen. Ini membuat film yang diadaptasi dari komik ini jadi punya tantangan tersendiri karena dalam waktu 160 menit, film ini harus mampu membangun sebuah pemahaman tentang latar belakang semua tokoh, sekaligus memahami alur ceritanya.


Buat yang sudah membaca dua belas komiknya jelas tak akan terlalu sulit mengikuti alur film ini. Sayangnya hal yang sama tak bisa dikatakan buat mereka yang benar-benar asing dengan kisah ini. Terlalu banyaknya karakter juga tak membuat pemahaman ini jadi lebih mudah. Karakter yang coba diungkapkan lewat kilasan flashback sedikit membantu meski tak benar-benar mampu membangun ikatan antara sang tokoh dan penonton.

Zack Snyder yang menyutradarai film ini memutuskan untuk membuat film ini sedekat mungkin dengan sumber aslinya walaupun di akhir film ada sedikit penyimpangan dari versi komiknya. Suasana dibuat suram ala film BATMAN BEGINS dan THE DARK KNIGHT. Zack juga berusaha memunculkan konflik batin para superhero ini, sama seperti yang dilakukan Christopher Nolan pada Batman. Sayangnya mustahil menyorot mereka semua hanya dalam durasi 160 menit saja.

X-Mens Origins: Wolverine




X-MENS ORIGINS; WOLVERINE

Sebuah kejadian tragis mengungkap siapa sebenarnya Logan (Hugh Jackman) dan saudaranya Victor (Liev Schreiber). Kedua bocah bersaudara ini ternyata adalah mutan. Logan mampu mengeluarkan cakar tajam dari sela-sela jarinya sementara Victor memiliki kuku-kuku yang sangat kuat. Kejadian tragis itu membuat kedua bersaudara ini terpaksa lari dari rumah.


Masa lalu yang suram ini membuat Logan dan Victor tumbuh menjadi dua orang yang penuh amarah. Untuk melampiaskan amarah mereka, Logan dan Victor lantas bergabung dengan tentara. Berbagai pertempuran dilalui dua saudara yang tak bisa menjadi tua atau mati ini. Suatu ketika karena kesalahan Victor, rahasia mereka berdua sebagai mutan terungkap dan ini dimanfaatkan oleh Kolonel William Stryker (Danny Huston) yang berencana membentuk satu kesatuan khusus tentara super.

Di tengah perjalanan, Logan merasa jenuh dengan kekerasan yang mereka lakukan dan memutuskan keluar dari kesatuan. Ini jelas membuat Stryker tak senang, Stryker kemudian memanfaatkan Victor dan Kayla Silverfox (Lynn Collins) untuk membawa Logan kembali untuk sebuah percobaan maut menggunakan logam Adamantium yang kemudian mengubah Logan menjadi Wolverine.


Tipu daya yang dilakukan Stryker membuat Logan dendam pada Victor yang kemudian berganti nama menjadi Sabretooth. Namun di saat rencana Stryker menjadi berantakan tak ada pilihan lain buat Stryker selain membangunkan Weapon XI (Scott Adkins) yang merupakan hasil eksperimen menggabungkan semua kekuatan mutan yang ada.

Seperti biasa, film hasil adaptasi dari komik atau video game selalu menuai kritik pedas dari para pecinta sumber aslinya ini dan film X-MEN ORIGINS: WOLVERINE ini juga bukan pengecualian. Banyak penggemar komik Wolverine yang merasa kecewa dengan hasil adaptasi ini karena dianggap tak bisa menerjemahkan karakter Wolverine ke layar lebar. 'Penyesuaian' memang tak bisa dihindari oleh sutradara dan penulis naskah film untuk membuat sebuah film adaptasi menjadi sebuah tontonan yang menurut mereka menarik.


Secara umum, film ini cukup menarik untuk ditonton. Latar belakang karakter utama dapat digambarkan dengan jelas meski di awal film, penggambaran masa kecil Wolverine dan Sabretooth sempat sedikit membuat bingung. Hugh Jackman mampu menampilkan kemarahan Logan dengan baik sementara Liev Chreiber yang berperan sebagai Victor juga juga sangat menjiwai tokoh 'pecinta kekerasan' ini dengan baik. Yang sangat disayangkan justru chemistry antara Logan dan Silverfox yang tak terbentuk dan terasa sedikit merusak motif Logan memburu Victor.

Namun di akhir kisah, tetap saja film bertempo cepat ini masih terasa menghibur. Terlepas dari konsisten atau tidak terhadap sumber aslinya, film hasil arahan Gavin Hood ini masih tetap sebuah film yang menarik. Mungkin yang agak sedikit mengganggu alur kisah hanyalah fakta bahwa film ini adalah prekuel dari trilogi X-MEn sehingga akhir cerita mau tak mau harus mengikuti awal dari trilogi ini.

The Sniper



THE SNIPER

Selama mendekam di penjara, Ching (Huang Xiaoming) tak pernah lupa pada kejadian yang membuatnya harus meringkuk di balik jeruji besi. Kian hari rasa benci itu tumbuh menjadi dendam yang harus terlampiaskan. Ketika hari pembebasan tiba, hanya satu hal yang ada di benak Ching - melampiaskan dendam lamanya.

Sebelum masuk penjara, Ching adalah seorang marksman yang menjadi pendamping sniper bernama Ming (Richie Ren). Karena satu kesalahan, Ching akhirnya mengakibatkan salah seorang sandera terbunuh. Meski pengadilan memutuskan bahwa kejadian itu adalah sepenuhnya kesalahan Ching, namun ia tetap menganggap bahwa Ming dan seluruh polisi adalah penyebab kejatuhannya.

Suatu ketika, Ming bertemu seorang polisi muda bernama O (Edison Chen) yang menurutnya memiliki bakat. Ming pun lantas merekrut O untuk menjadi partnernya. Di saat yang bersamaan, Ching yang telah bebas dari penjara sedang merencanakan pembalasan terhadap Ming dan seluruh petugas polisi yang ia anggap bersalah dan menghancurkan hidupnya.

Sepertinya ada yang salah dengan film berjudul THE SNIPER ini. Nama Richie Ren dan Edison Chen dipasang sebagai dua tokoh sentral dalam film ini tapi kalau mau sedikit teliti, karakter yang diperankan oleh Huang Xiaoming justru terasa lebih digarap ketimbang tokoh yang diperankan oleh Ren dan Chen. Atau mungkin pertimbangannya adalah popularitas Edison Chen jauh lebih mampu 'menjual' film ini ketimbang faktor lain.

Alur cerita yang diusung sangat sederhana layaknya kebanyakan film mandarin ber-setting modern. Sebenarnya ada kesempatan mengembangkan cerita ini lebih jauh. Ada beberapa celah yang masih bisa dibuatkan subplot namun dilewatkan begitu saja. Akhirnya yang terjadi adalah bahwa film berdurasi 90 menit ini terasa sebagai sebuah 'rangkuman' dan bukan film yang utuh. Beberapa karakter selain tiga orang ini juga terasa hanya lewat tanpa ada kesan.

Soal akting, tak terlalu jadi masalah karena kebanyakan film Asia memang selalu memasang aktor pada peran yang sudah melekat pada dirinya. Misalnya saja Edison Chen, di sini ia berperan sebagai karakter yang emosional dan sedikit arogan sama seperti kebanyakan peran yang pernah ia bawakan. Meski berjudul mirip, film ini masih jauh dari film SNIPER yang dibintangi Tom Berenger di tahun 1993 lalu.

Angels & Demons



ANGELS & DEMONS

Saat Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (Tom Hanks).

Langdon yang semula tak percaya bahwa persaudaraan Illuminati ini masih ada mau tak mau harus menerima kenyataan karena tak ada orang yang sanggup membuat tanda ambigram sempurna yang menjadi simbol Illuminati kecuali dari persaudaraan rahasia ini sendiri.
Petualangan kemudian membawa Langdon dan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) yang ingin mengetahui pembunuh ayahnya ke Vatican di mana persaudaraan Illuminati mengancam akan meledakkan kota suci ini dan membunuh semua orang di dalamnya. Satu-satunya cara melacak si pembunuh adalah dengan mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan sang anggota Illuminati dengan harapan dapat mencegah pembunuhan massal ini.

Sayangnya sang pembunuh hanya meninggalkan petunjuk di atas mayat para Kardinal yang telah ia bunuh satu per satu. Kini Langdon dan Vetra harus berpacu untuk mendahului sang pembunuh atau semua Kardinal yang diculik mati dan tak ada petunjuk mengenai lokasi peledak yang dipasang persaudaraan Illuminati ini.

Seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, penyesuaian mesti dilakukan karena keterbatasan durasi tayang dan lain sebagainya. Ini yang sering kali membuat para fans novel merasa kecewa dengan visualisasi dari tulisan yang sempat mereka baca sebelumnya. Film berjudul ANGELS AND DEMONS ini juga bukan pengecualian. Bila Anda sempat membaca novelnya, Anda pasti tahu bahwa ada beberapa fakta atau detail yang harus 'disesuaikan'. Terlepas dari segala 'penyesuaian' itu, film adalah sebuah karya yang layak dinilai sebagai dirinya sendiri.

Sebagai sebuah film, ANGELS AND DEMONS ini cukup mampu membawa inti permasalahan dari novel Dan Brown ke dalam bentuk visual. Ron Howard, sang sutradara sanggup membuat sebuah film yang cukup berimbang dan tak memihak mana pun. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan selama ada saling pengertian dan toleransi.
Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas. Ron Howard sepertinya juga tak mau mengulang kesalahan yang terjadi pada THE DA VINCI CODE dan menghilangkan unsur romantis yang sebelumnya sempat dikritik karena tak ada chemistry antara Tom Hanks dan lawan mainnya.

Tampilan visual dari Sistine Chapel, Pantheon, Gereja dan Makam terlihat sangat mengagumkan meski Howard harus melakukan pengambilan gambar bukan di tempat aslinya. Sebuah tontonan yang menarik selama Anda tak membanding-bandingkannya dengan versi novelnya.

GI-Joe: The Rise of Cobra



GI_JOE: THE RISE OF COBRA

M.A.R.S. berhasil membuat sebuah senjata biologis yang sangat berbahaya dan memberinya nama nanomites. James McCullen (Christopher Eccleston) lantas memerintahkan dua orang serdadu NATO, Duke (Channing Tatum) dan Ripcord (Marlon Wayans) untuk mengawal sebuah tas berisi nanomites ini agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang salah.

G.I. JOE: THE RISE OF COBRA
Sayang dalam perjalanan, Duke dan Ripcord disergap oleh sekawanan serdadu bayaran yang dipimpin oleh Baronness (Sienna Miller). Kalah dalam sisi jumlah dan persenjataan, Duke dan Ripcord hampir saja mengalami nasib tragis kalau saja General Hawk (Dennis Quaid) dan pasukannya datang menolong. Namun meskipun begitu, tas berisi nanomites tetap saja dapat direbut Baronness dan kawan-kawannya.

General Hawk lantas mengajak Duke dan Ripcord untuk bergabung dengan pasukan elit yang ia bentuk, tim tentara super yang ia sebut G.I. Joe. Merasa bertanggung jawab pada nanomites yang kini berada di tangan sekelompok teroris dan dendam atas kekalahan dari musuh lamanya, Baronness, Duke pun bersedia bergabung bersama G.I. Joe.
G.I. JOE: THE RISE OF COBRA
Kini, bersama dengan Scarlett (Rachel Nichols), Snake Eyes (Ray Park) dan tim G.I. Joe yang lain, Duke dan Ripcord harus bekerja keras memburu Baronness dan seluruh anggota organisasi Cobra yang bermaksud menggunakan nanomites ini untuk menguasai seluruh dunia dengan cara menebar penderitaan dan ketakutan.

Film G.I. JOE: THE RISE OF COBRA ini dibuat berdasar franchise mainan anak-anak G.I. Joe: A Real American Hero yang diproduksi oleh Hasbro antara tahun 1982 dan tahun 1994. Dalam versi toy-nya, ada sekitar 500 karakter dan sekitar 250 kendaraan yang dirilis ke pasar dan film ini mencoba memberikan visualisasi dari para karakter inti yang muncul pada jajaran mainan ini.

Seolah paham bahwa G.I. Joe adalah sebuah legenda, sutradara Stephen Sommers berusaha membuat alur kisah film ini sedekat mungkin dengan fakta-fakta yang ada dalam franchise ini. Secara umum, film ini memang seolah adalah perpanjangan tangan dari franchise yang bermula dari produk toy sampai dibuatkan versi kartunnya ini. Kenyataan ini jelas akan menjadi sebuah berkah buat para die-hard fans franchise ini.

G.I. JOE: THE RISE OF COBRA
Ada beberapa hal lagi yang membuat Stephen Sommers jadi 'sukses' mengadaptasi franchise ini adalah pemilihan para pemeran yang tergolong cukup mampu berakting untuk sebuah film yang sebenarnya sama sekali tak memerlukan kemampuan akting. Kedua, Stephen Sommers mampu menyajikan pengalaman berbeda buat penonton. Artinya, penonton dibawa untuk bisa melihat dari dekat aksi laga para tokoh pujaan mereka dari dekat. Koreografi tarung tak hanya dibuat menarik namun penonton juga dapat melihat dengan jelas 'apa yang sedang mereka lakukan'.

Stephen Sommers juga mengusung setumpuk gadget berteknologi tinggi dan kendaraan tempur layaknya dalam versi toy maupun kartunnya dan membuat film ini jadi lebih dekat dengan sumber aslinya. Meski tergolong film laga dengan tensi tinggi, namun Sommers tetap membuatnya 'ramah' buat anak-anak mengingat film ini harus masuk kategori PG-13. Artinya, meski aksi laga cukup violent, namun Anda tak akan melihat ada darah berceceran seperti pada film SAW misalnya.

Sayang kelebihan yang sudah ada itu tak diimbangi dengan penulisan naskah yang bagus juga. Bisa dikatakan bahwa ide cerita film ini sangat sederhana, nyaris ide cerita film kartun yang berdurasi sekitar 30 menit saja. Sisa waktu hanya diisi oleh serangkaian aksi laga untuk memenuhi kuota agar bisa disebut sebuah film feature.

Karakter tak cukup dieksplorasi sehingga para aktor pun tak punya ruang untuk membuat para karakter yang mereka perankan terasa 'hidup. Dialog bisa dibilang absen dan digantikan dengan sederet catch phrase macam "Damn, that ninja’s fast!" atau "Dead guys don't breakdance" misalnya. Namun terlepas dari itu, tetap saja G.I. JOE: THE RISE OF COBRA ini adalah sebuah film yang 'menghibur'.

The Taking of Pelham 123



THE TAKING OF PELHAM 123


Walter Garber (Denzel Washington) hanyalah seorang petugas kereta api bawah tanah yang ingin hidup tenang. Dan selama ia bertugas memang tak pernah ada kejadian apapun yang sampai membahayakan nyawanya. Semuanya berubah ketika Bernard Ryder (John Travolta) jadi salah satu penumpang di kereta Walter.

Bernard dan kawan-kawannya berencana membajak kereta api bawah tanah yang penuh dengan penumpang itu dan meminta tebusan sebesar US$10 juta. Bernard hanya memberi waktu satu jam untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dan menyerahkannya pada Bernard atau ia akan menghabisi seluruh penumpang tak berdosa yang ada dalam kereta itu.
Sebenarnya Walter tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan para penumpang kereta itu namun karena ia yang berwenang di sana, maka mau tak mau ia menjadi negosiator antara pihak kepolisian dan gerombolan Bernard yang makin kehilangan kesabaran.

Saat waktu yang diberikan Bernard sudah hampir habis, Walter hanya bisa menawarkan dirinya sebagai ganti dari para sandera dengan harapan bisa memperdaya para pembajak dengan bekal pengetahuannya tentang jalur kereta api bawah tanah di sana. Ada satu pertanyaan yang masih tetap menghantui Walter. Seandainya para pembajak berhasil mendapatkan uang tebusan, bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari polisi?

Membuat remake dari sebuah film tak sama dengan membuat remake dari sebuah lagu. Mendaur ulang sebuah lagu punya sisi menguntungkan karena publik sudah kenal lagu itu dan akan lebih mudah mengadopsi lagu dalam versi baru tersebut. Film, di sisi lain, tidak mendapatkan keuntungan itu karena bila publik sudah tahu jalan ceritanya maka unsur surprise sudah tak ada lagi.

Dalam kasus THE TAKING OF PELHAM 1 2 3, sutradara Tony Scott dan Brian Helgeland sebagai penulis naskah cukup jeli dan mencoba menampilkan film lawas ini dalam interpretasi yang lebih segar. Tony mencoba menggali sisi yang tak didapatkan dari film aslinya dan mengolahnya menjadi sebuah psychological thriller yang memukau. Sisi yang digali Tony adalah hubungan pribadi antara Walter Garber yang diperankan oleh Denzel Washington dan Bernard Ryder yang dimainkan oleh John Travolta.

Pemilihan aktor pun cukup tepat. Kalau Anda masih ingat FACE OFF, Anda pasti masih ingat bagaimana Travolta mampu mengubah dirinya menjadi sosok penjahat keji yang tak kenal belas kasihan. Rekor Denzel Washington pun sudah membuktikan bahwa aktor yang satu ini sama sekali tak bisa diremehkan. Travolta mampu menampilkan kemarahan Ryder dengan sangat brilian sementara Washington pun tampil meyakinkan sebagai Garber yang punya kegigihan luar biasa.

Penampilan kedua aktor ini jadi menarik karena mereka berdua mampu menghidupkan karakter yang sebenarnya klasik ini menjadi sosok yang hidup, fresh dan tak terjebak pada stereotype. Sayang kemampuan ini tak bisa diimbangi oleh para pemain yang berperan menjadi sandera dalam kereta api yang dibajak Ryder. Akibatnya ada kesan bahwa suasana penyanderaan ini sedikit terasa generik.

Kalaupun ada yang terasa mengganggu, barangkali adalah teknik pengambilan gambar yang terlalu 'artistik'. Teknik blur, slow-motion dan swish-pan yang digunakan jadi terasa tak efektif dan cenderung mengganggu. Alur yang sudah bagus dan editing yang efektif sebenarnya sudah cukup membuat film ini jadi menegangkan tanpa harus menggunakan teknik pengambilan gambar yang aneh-aneh.

District 9



DISTRICT 9

Penduduk bumi selalu yakin bahwa suatu saat nanti bumi pasti akan didatangi makhluk dari planet lain. Sebagian mengira bahwa pendatang ini akan berusaha menguasai bumi sementara tak sedikit juga yang beranggapan bahwa pendatang ini nantinya akan membawa teknologi baru untuk kemajuan penghuni bumi. Ternyata, saat para aliens ini datang, mereka justru adalah sekelompok pengungsi yang ingin mencari tempat berlindung.




DISTRICT 9

Karena tak tahu harus berbuat apa, pemerintah terpaksa memberikan tempat berlindung di sebuah tempat di Afrika Selatan yang bernama District 9. Selama dua puluh delapan tahun para 'pendatang' ini dibiarkan tinggal di sana namun tak diijinkan membaur dengan manusia. Multi-National United (MNU) yang menangani masalah aliens ini berharap dapat mengeruk keuntungan besar dari persenjataan yang dibawa para aliens ini meski selama 28 tahun usaha itu sepertinya sia-sia.
Suatu ketika salah seorang petugas MNU yang bernama Wikus van der Merwe (Sharlto Copley) secara tak sengaja terkontaminasi virus dari salah satu senjata aliens ini dan secara perlahan struktur DNA-nya mulai berubah. Dalam waktu singkat Wikus menjadi orang yang paling dicari di muka bumi. MNU menganggap Wikus adalah kunci untuk membuka teknologi aliens ini dan tak ada lagi tempat buat Wikus untuk bersembunyi, kecuali di District 9.
DISTRICT 9
Belakangan banyak film yang berkisah tentang masa lalu, terutama tentang Nazi. Mulai dari VALKYRIE, THE READER sampai DEFIANCE semuanya mencoba mengupas cerita gelap itu dari berbagai sisi. Kesamaan topik ini jadi terlihat jelas lantaran tak ada usaha untuk menyamarkan ide pokok ini. Para sutradara yang menggarap film-film itu hanya membuat visualisasi dari apa yang selama ini kita ketahui dari buku. Beda dengan film yang satu ini.
Bila diperhatikan dengan baik, sebenarnya DISTRICT 9 ini sama sekali bukan film yang berkisah tentang alien atau pendatang dari planet lain. Kisah itu hanyalah kamuflase dari ide dasar yang mungkin sama sekali tak terlihat. Kesan yang tertangkap pertama kali adalah apartheid dan itu dikuatkan oleh latar belakang sang sutradara yang asal Afrika Selatan. Neill Blomkamp, sang sutradara, sepertinya ingin menguak kisah kelam di masa lalu itu dengan kemasan yang lebih fresh.
DISTRICT 9
Mulai dari situasi masyarakat, idealisme yang ada hingga perlakuan para petinggi negara dan pelaku bisnis mencerminkan situasi saat rezim apartheid berkuasa di benua hitam ini. Di sisi lain, Neill juga mencoba menawarkan konsep penuangan yang tak terlalu 'vulgar' sehingga pesan moral yang dibawa film ini bisa lebih relevan dengan generasi saat ini yang tak mengalami masa-masa itu.
Dituturkan dengan alur yang cukup sederhana dengan menggunakan berbagai trik termasuk footage dokumenter dan kamera surveillance tanpa harus menjadi terlalu kompleks, film ini masih tetap bisa menghibur meski sebenarnya membawa pesan yang sangat berat. Penggunaan visual effect dan akting para pemainnya pun cukup bagus dalam artian tidak terlalu 'wah' tapi tetap efektif. Hasilnya, sebuah film yang bisa jadi hiburan sekaligus cermin buat para penonton.