Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2009

The House Bunny



THE HOUSE BUNNY
Shelley Darlington (Anna Faris) adalah seorang waitress di Playboy Club. Selama 9 tahun terakhir, Shelley tinggal di Playboy Mansion atau tempat tinggal Hugh Hefner sang pemilik majalah Playboy. Namun karena usia yang tak lagi muda, Shelley akhirnya didepak oleh para Playboy Bunny (waitress) lain yang tinggal di sana.

Karena selama ini Shelley tak pernah punya keterampilan lain dan tak punya banyak tabungan, Shelley terpaksa harus berkeliaran di jalanan kota Los Angeles. Nasib membawa Shelley ke sebuah rumah tempat perkumpulan mahasiswi bernama Zeta Alpha Zeta.

Ketujuh mahasiswi yang tinggal di sana terancam diusir dari asrama mereka oleh kelompok mahasiswi lain dan hanya Shelley yang mampu melindungi ketujuh orang mahasiswi itu dari ancaman kelompok Phi Iota Mu. Saat para wanita itu semakin dekat, maka mau tak mau mereka harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi diri mereka sendiri.

Menilai sebuah film komedi kadang memang tak mudah. Banyak faktor seperti tingkat pendidikan, budaya, selera, bahkan sampai wawasan sangat menentukan lucu atau tidaknya sebuah film humor. Begitu juga dengan film THE HOUSE BUNNY ini. Film seperti ini sebenarnya punya potensi menjadi lucu namun di sisi lain ia juga berpeluang untuk jadi membosankan.


Dari sisi cerita, sebenarnya tak ada yang baru dalam film ini. Ide dasar film ini bisa jadi sangat mirip dengan film LEGALLY BLONDE atau CLUELESS yang juga berkisah tentang 'petualangan' gadis berambut pirang yang di Amerika sana selalu diidentikkan dengan 'tak punya otak'. Kelucuan yang coba ditampilkan sebenarnya lebih bersifat harfiah dan pada saat film berakhir, kelucuan itu sudah tak lagi lucu.

Logika juga bukan salah satu pilihan untuk menilai film seperti ini. Kalau Anda perhatikan benar-benar, sebenarnya banyak hal yang tak logis yang ditampilkan film ini namun harus dimaklumi bahwa kadang itu memang bukan salah satu pertimbangan sang sutradara dalam membuat film-film seperti ini.


Yang cukup menarik dari film ini justru adalah akting Anna Faris yang berperan sebagai Shelley Darlington. Film komedi memang bukan barang baru bagi Anna. Aktris ini juga tampil dalam franchise SCARY MOVIE. Setelah cukup lama berperan sebagai gadis 'bodoh' dalam SCARY MOVIE, bisa dibilang penampilan Anna dalam THE HOUSE BUNNY jauh lebih baik. Sayangnya itu tak diimbangi dengan naskah film yang seimbang. Akibatnya, di beberapa adegan potensi yang dimiliki Anna Faris memang seolah sia-sia.

Terlepas dari itu semua, sebuah film humor memang tak bisa dianggap sukses bila tak mampu memancing tawa. Dengan parameter itu, maka bagus tidaknya film ini kembali pada sesuai atau tidaknya jenis humor yang ditawarkan dengan selera Anda. Sebagai sebuah hiburan yang tak memerlukan banyak pemikiran, film ini layak juga dijadikan pertimbangan.

Bedtime Stories



BEDTIME STORIES
Skeeter Bronson (Adam Sandler) mungkin bukan termasuk contoh orang yang sukses. Pekerjaannya sebagai teknisi di sebuah hotel tak terlalu menjanjikan masa depan buat Skeeter. Namun semuanya tiba-tiba saja berubah saat Skeeter menemukan satu bakat 'unik' yang dimilikinya.


Tanpa disadari, semua cerita yang dibacakan Skeeter untuk kedua keponakannya tiba-tiba secara ajaib menjadi kenyataan. Skeeter yang 'membaca' peluang emas ini kemudian mengarang-ngarang cerita dengan maksud mengambil keuntungan dari bakat anehnya ini. Skeeter bermaksud mengambil alih posisi Kendall (Guy Pearce) sebagai manajer hotel.
Sayangnya, 'campur tangan' kedua keponakannya mengubah rencana menuju kesuksesan ini menjadi malapetaka yang tak terbayangkan. Kini Skeeter harus berusaha keras untuk 'memperbaiki' semua kerusakan yang secara tak langsung telah ia lakukan.

Dunia dongeng memang tak pernah berhenti menjadi daya tarik buat anak-anak, bahkan mereka yang sudah dewasa. Dan peluang inilah yang mendasari film hasil arahan sutradara Adam Shankman ini. Waktu peluncuran film ini pun terasa tepat karena pada liburan panjang akhir tahun biasanya seluruh keluarga punya waktu luang cukup banyak untuk nonton film.

Namun meski film ini dibuat untuk 'ramah' anak kecil, bukan berarti bahwa orang dewasa tak dapat menikmati film ini. Humor-humor segar yang muncul dari kekonyolan Adam Sandler masih cukup relevan untuk dikonsumsi seluruh keluarga. Hasilnya, film ini memang pas dikonsumsi seluruh keluarga di penghujung tahun 2008 ini.

Soal akting, para pendukungnya memang tak perlu lagi diragukan. Sukses memerankan tokoh yang dirundung kesialan seperti dalam film LITTLE NICKY atau ANGER MANAGEMENT membuat Adam Sandler terlihat 'pas' memerankan tokoh Skeeter dalam film ini. Yang agak disayangkan mungkin adalah Guy Pearce yang agaknya kurang pas dipasang sebagai pemeran karakter Kendall.


Yang tak kalah menariknya justru adalah penampilan dua bintang cilik Laura Ann Kesling dan Jonathan Morgan Heit yang terlihat begitu wajar memerankan dua keponakan Skeeter. Sementara Russell Brand yang pertama kali tampil dalam film FORGETTING SARAH MARSHALL juga terlihat 'enjoy' berperan sebagai Mickey.

Jangan berharap ada logika karena film ini memang adalah sebuah dongeng sebelum tidur. Dan seperti kebanyakan dongeng sebelum tidur, banyak hal mustahil yang bisa saja terjadi. Terlepas dari itu, Adam Shankman, sang sutradara mampu mengolah ide cerita sederhana namun liar ini menjadi sebuah tontonan happy ending yang layak jadi tontonan penutup tahun ini.

Chandni Chowk to China



CHANDNI CHOWK TO CHINA
Sidhu (Akshay Kumar) adalah seorang pemuda yang tinggal di area Chandni Chowk di Delhi. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembantu juru masak di sebuah restoran di sana. Suatu hari, dua orang yang datang dari negeri China datang membawa kabar yang akan mengubah hidup Sidhu selama ini.

Dua orang ini yakin bahwa Sidhu adalah reinkarnasi dari pendekar sakti dari jaman dulu yang ditakdirkan untuk menumpas kejahatan. Dua orang ini datang jauh-jauh dari China karena mereka mencari orang yang tepat untuk membantu mereka. Kebetulan di tempat tinggal mereka ada seorang pendekar sakti bernama Hojo (Gordon Liu) yang menindas warga di sana.

Dengan bantuan Chopstick (Ravnir Shorey), dua orang ini akhirnya berhasil meyakinkan Sidhu dan mengajaknya berangkat ke China untuk menumpas kejahatan. Berhasilkah Sidhu memenuhi ramalan dua orang ini dan menjadi pahlawan pemberantas kejahatan?
Setelah Hong Kong, kini giliran India yang jadi sasaran film Hollywood. Meski ini bukan pertama kalinya dunia barat menggarap film ber-setting, namun jaraknya yang tak terlalu jauh dari SLUMDOG MILLIONAIRE membuat film ini seolah mengisyaratkan bahwa Hollywood kini mulai melirik Bollywood. Sementara buat Warner Bros. Pictures, ini adalah film Bollywood kedua yang mereka garap. Konon, Warner Bros. mengedarkan film ini di lebih dari 120 teater di Amerika dan menjadi film Bollywood pertama yang diedarkan seluas itu.
Bagi pasar Amerika, film ini punya tantangan tersendiri lantaran pasar yang berbeda total. Pasar Amerika mungkin terbiasa menilai film dari kedekatannya dengan logika atau kenyataan. Kualitas film Hollywood ditentukan pada ketaatannya pada logika umum atau setidaknya logika yang dibuat oleh film itu sendiri. Hal yang sama tak bisa diterapkan pada film-film Asia atau lebih tepatnya film Bollywood.

Bagi penonton di Indonesia sendiri, film semacam ini mungkin tak terlalu asing karena pada dasarnya film Indonesia pun dibuat pada pijakan yang sama dengan film Bollywood atau film Hong Kong. Dan ini membuat film ini jadi lebih tepat untuk konsumen di Indonesia. Malahan untuk konsumen film Indonesia, CHANDNI CHOWK TO CHINA ini jadi terasa 'berbeda' lantaran memadukan tiga unsur dalam satu kemasan: Bollywood, Hong Kong sekaligus Hollywood.

Secara umum, film ini bisa dibagi menjadi dua bagian yang saling bertolak belakang. Bagian pertama menampilkan karakter Sidhu yang konyol dengan sentuhan lagu dan tarian ala film-film Bollywood. Di sini, karakter Sidhu mungkin bisa disebut perpaduan antara Adam Sandler dengan Sacha Baron Cohen. Pada bagian kedua, nuansa film berubah menjadi lebih suram dengan karakter Sidhu yang mulai berlatih Kung Fu dan berusaha mati-matian mengalahkan Hojo.

Dan untuk bagian kedua ini, para penggemar film-film mandarin akan dimanjakan dengan koreografi tarung yang cukup menarik. Jelas saja menarik lantaran penataan tarung film ini dipercayakan pada Huen Chiu-Ku yang juga ikut andil dalam pembuatan film-film sukses macam CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON dan THE MATRIX.

Terlepas dari bagus atau tidaknya, film ini jadi semacam pembuktian bahwa dunia timur pun cukup layak bermain di dunia film internasional. Bisa jadi, langkah selanjutnya adalah film Indonesia yang berlaga di pentas internasional. Kita tunggu saja.

17 Again



17 AGAIN

Bagaimana jadinya bila Anda yang berusia tiga puluhan tiba-tiba saja kembali menjadi remaja berusia tujuh belas tahun dan harus berjuang mati-matian menyesuaikan diri dengan lingkungan yang telah banyak berubah. Itulah yang terjadi pada Mike O'Donnell (Zac Efron).
Ketika masih di SMA, Mike adalah seorang remaja dengan masa depan cemerlang. Mike adalah atlet sukses dan mendapat bea siswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas terkenal. Sayangnya, di saat yang sama, Scarlett (Leslie Mann) hamil dan Mike harus segera membuat keputusan besar.

Yakin bahwa hidupnya akan bahagia bersama Scarlett, Mike kemudian memutuskan untuk menikahi Scarlett dan meninggalkan semua yang bisa ia miliki saat itu. Dua puluh tahun kemudian, Mike mulai meragukan pilihan yang ia buat saat itu. Rumah tangganya mulai berantakan dan ia memilih tinggal bersama Ned Freedman (Thomas Lennon) teman baiknya.

Suatu hari, ketika Mike sedang berusaha menolong seorang pria yang akan bunuh diri, tiba-tiba saja Mike mendapati dirinya berubah menjadi dirinya ketika berusia tujuh belas tahun. Bingung dan tak tau harus berbuat apa, ia kemudian meminta bantuan Ned yang untungnya bisa menerima kejadian aneh ini.

Ned kemudian berpura-pura menjadi ayah Mike dan mendaftarkan Mike ke sebuah SMA. Kini Mike harus mulai beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Parahnya lagi, ia ternyata harus berada di satu sekolah dengan Maggie (Michelle Trachtenberg), putrinya.
Ide mengulang masa lalu memang selalu menjadi ide yang menarik. Bukan apa, hampir semua orang pasti punya penyesalan dan ingin mengulang saat ia membuat kesalahan dan memperbaikinya. Itu memang solusi yang selalu terbayang saat menghadapi masalah berat. Itu juga yang membuat banyak orang film yang mencoba menuangkan ide ini ke dalam bentuk film. Tak sedikit film bertema ini yang sudah diproduksi sampai-sampai ide ini jadi tak menarik lagi.

Dan sepertinya Burr Steers, sang sutradara, juga tak bisa lepas dari pakem cerita soal mengulang masa lalu ini. Memang ada pesan yang disampaikan namun rasanya sudah basi untuk diulang-ulang lagi. THE BUTTERFLY EFFECT sempat membuat pencerahan dalam genre yang satu ini tapi itupun tak bertahan lama karena saat dibuat sekuelnya, ide itu jadi tak menarik lagi.

17 AGAIN ini bisa disebut versi ringan dari film-film yang mengusung tema serupa. Malahan bisa dibilang, film ini hanya dibuat untuk 'mengekspos' Zac Efron yang bisa dipastikan bakal menyedot banyak pengunjung gedung bioskop. Akting para pemeran biasa-biasa saja sementara alur cerita juga tak terlalu menarik. Akhirnya, yang tertinggal hanyalah 100 menit hiburan yang tak membebani otak.

The Hangover


THE HANGOVER
Dua hari lagi, Doug (Justin Bartha) akan segera menikah. Untuk merayakan hari-hari terakhir Doug sebagai bujangan, Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms) dan Alan (Zach Galifianakis) mengajak Doug pergi ke Las Vegas. Tawaran menarik ini jelas tak dilewatkan Doug dan berangkatlah keempat pria ini ke Las Vegas.
Dalam waktu singkat, keempat orang yang memang berencana berpesta itu larut dalam kerasnya alkohol. Dari sinilah semua masalah berawal dan menempatkan mereka dalam posisi yang sulit. Ketika terbangun keesokan harinya, tiga orang teman Doug ini mendapati bahwa Doug tak lagi bersama mereka.
Sebagai gantinya, mereka menemukan seekor macan di dalam kamar mandi dan bayi berusia enam bulan di dalam lemari pakaian. Celakanya, tak satu pun dari ketiga orang ini yang ingat apa yang telah mereka lakukan malam sebelumnya. Kini, mereka bertiga tak punya pilihan selain berusaha menelusuri kembali apa yang mereka lakukan dengan harapan bisa menemukan Doug dan membawanya kembali untuk pernikahan yang telah menantinya.
Sayangnya usaha itu tak akan mudah dilakukan. Selain mereka sama sekali tak ingat apa yang telah mereka lakukan malam sebelumnya, ternyata ada banyak orang yang menghalangi mereka menemukan Doug dengan alasan yang sama sekali tak dimengerti oleh ketiga teman Doug ini. Mampukah ketiga orang ini menemukan teman mereka yang akan menikah dan membawanya pulang tepat pada waktunya?
Kesialan orang lain memang adalah sumber lelucon yang paling efektif, meski di saat yang sama pernyataan itu juga terasa sedikit menyakitkan di kuping. Trik ini sebenarnya sudah bukan barang baru lagi. Malahan bisa dibilang sumber lelucon yang satu ini sama tuanya dengan humor itu sendiri. THE HANGOVER ini juga menggunakan trik yang sama untuk memancing tawa, bedanya, yang satu ini tak terjebak humor slapstick yang biasanya dikonotasikan dengan humor murahan.
Selain penataan alur yang pas, chemistry di antara para pemainnya juga sangat terasa sehingga tiap dialog dan situasi yang ditampilkan jadi benar-benar lucu. Kalaupun ada yang patut disayangkan, justru adalah penampilan Justin Bartha yang singkat namun kurang efektif. Di sisi lain Ken Jeong yang juga tak kebagian terlalu banyak screen time justru malah terasa lebih mengena.