Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2009

Iron Man



IRON MAN
Superhero Iron Man dari komik karya Marvel akhirnya diboyong ke layar lebar. Tokoh manusia berbaju besi yang kali pertama diterbitkan pada Maret 1963 ini berkisah tentang seorang miliuner genius pemilik pabrik senjata Tony Starks (Robert Downey Jr.) yang diculik oleh kawanan teroris dan dipaksa untuk membuat sebuah senjata pemusnah massal yang baru saja diproduksi oleh perusahaan Stark.

Awalnya, Tony yang terluka karena sebuah ledakan diselamatkan oleh para teroris yang akhirnya malah menawan Tony untuk tujuan membuat senjata bernama rudal Jericho itu. Di dalam tawanan ini, Tony yang terluka diselamatkan oleh Yinsen (Shaun Toub) yang membuatkan sebuah alat untuk menahan pecahan peluru yang ada di tubuh Tony.

Awalnya Tony Stark menolak tuntutan para teroris itu namun setelah mendapat siksaan dari para teroris itu, Tony setuju walaupun sebenarnya ia punya rencana sendiri. Dengan bantuan Yinsen, Tony membuat baju zirah yang dilengkapi dengan beberapa senjata dan roket. Rencananya, Tony akan memakai armor itu untuk membebaskan Yinsen dan dirinya dari para teroris.

Sayangnya rencana itu harus gagal karena para teroris keburu menyerbu masuk karena curiga dengan usaha Tony. Yinsen tewas dalam usaha untuk mengulur waktu agar Tony sempat masuk ke dalam baju besinya.

Tony berhasil lolos dan ditemukan para tim pencari yang menyisir gurun setelah peristiwa penyerangan pada rombongan Tony. Tony yang masih dalam kondisi buruk berhasil kembali ke Amerika Serikat setelah 1 minggu dinyatakan hilang.

Sekembalinya Tony ke Amerika, pengusaha senjata itu memutuskan untuk berhenti memproduksi senjata karena menyadari bahwa selama ini senjata produksi perusahaannya telah dipergunakan oleh para teroris untuk menyebar mala petaka. Ide ini ditolak mentah-mentah oleh Obadiah Stane (Jeff Bridges) yang menjadi mitra Tony. Tony kemudian disarankan untuk beristirahat dulu dari aktivitas bisnis.

Ternyata Obadiah memanfaatkan waktu ini untuk memproduksi senjata dan menjualnya ke para teroris yang sanggup membayar mahal untuk senjata produksi Stark. Tony tidak menyadari ini dan menyibukkan dirinya menyempurnakan baju besi yang digunakannya untuk meloloskan diri dari para teroris. Di saat yang sama Tony juga menyempurnakan alat yang diciptakan Yinsen untuk menyelamatkan dirinya.

Saat melihat di TV terjadi kerusuhan yang terjadi di sekitar daerah tempat Tony dulu disandera, Tony terpanggil untuk datang menyelamatkan para penduduk setempat. Tony pun lalu masuk ke dalam baju besinya dan muncul sebagai penyelamat.

Di saat yang hampir bersamaan, para teroris ternyata berhasil menemukan baju besi yang digunakan Tony untuk meloloskan diri dan memberikannya pada Obadiah. Obadiah lalu membuat teknologi yang sama, bahkan lebih canggih untuk menghadapi Tony Stark yang dianggapnya akan menghalangi usahanya dalam bidang jual beli senjata.

Mau tak mau, Tony yang kini menjadi Iron Man harus menghadapi Obadiah yang kini telah menciptakan baju super yang disebutnya Iron Monger.

Hollywood tampaknya masih tak bosan mengadaptasi tokoh komik ke dalam film-film mereka. Kali ini tokoh superhero Iron Man yang difilmkan. Bila dibandingkan dengan beberapa film senada, film ini tampak disajikan lebih baik walaupun mungkin belum sebagus BATMAN BEGINS.
Humor-humor segar yang terselip di beberapa adegan membuat film ini jadi enak untuk dilihat. Sayangnya angle pengambilan gambar terasa biasa-biasa saja. Tidak ada kesan apa pun yang terasa dari gambar-gambar yang disajikan.

Dari sisi cerita memang tak banyak yang bisa diharapkan, hampir semua film bergenre ini selalu mudah ditebak endingnya. Untungnya acting Robert Downey Jr, Terrence Howard, Gwyneth Paltrow, dan Jeff Bridges masih bisa membuat kita bertahan duduk menunggu film berakhir. Masing-masing tampak perfect membawakan peran mereka.

Proses adaptasi Tony Stark pada baju besinya pun membuat jalan cerita seolah wajar dan tidak dipaksakan. Walaupun penggarapan CGI-nya layak mendapat jempol, tapi ada beberapa adegan yang masih terasa mengganjal logika.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Narnia 2: Prince Caspian



NARNIA 2 : PRINCE CASPIAN

THE CHRONICLES OF NARNIA: PRINCE CASPIAN merupakan serial film yang diangkat dari novel fantasi karya C.S. Lewis, di mana sebelumnya telah dirilis THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE (2005). Bukunya sendiri terdiri dari tujuh buku dan ditujukan untuk anak-anak, yang mulai ditulis pada 1950 sampai 1956. Dalam buku itu mengandung unsur mitologi Kristen, Yunani dan Romawi, serta dongeng Inggris dan Irlandia.

Peter, Susan, Edmund, dan Lucy Kembali lagi ke tanah Narnia setelah 1 tahun kembali ke dunia mereka. Dalam masa yang setara dengan 1.300 tahun Narnia itu banyak hal telah yang berubah. Narnia yang sebelumnya berada dalam puncak kejayaannya sekarang berada di bawah tirani Raja Miraz yang merebut kekuasaan dari tangan Pangeran Caspian.

Raja Miraz yang membunuh ayah Pangeran Caspian masih merasa terancam dengan masih hidupnya sang pangeran. Ia berencana untuk menghabisi Pangeran Caspian agar tahta yang ia pegang nanti akan jatuh ke tangan anaknya. Untungnya Pangeran Caspian berhasil meloloskan diri dan bergabung dengan para makhluk dan binatang yang hidup dalam persembunyian.

Dengan bantuan para makhluk itu, Pangeran Caspian membangun tentara untuk menghadapi tentara Raja Miraz yang terkenal kejam. Walaupun pada awalnya, pasukan Pangeran Caspian sempat mengalami kekalahan karena kesalahan strategi, namun dengan bantuan Peter, Susan, Edmund, dan Lucy angin segar kini berada di pihak Pangeran Caspian.

Sekuel dari THE CRONICLES OF NARNIA ini masih diadaptasi dari novel karya C.S Lewis bahkan naskah film ini sudah ditulis sebelum THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE dirilis. Andrew Adamson sang sutradara bermaksud menggunakan casting yang sama sehingga film sekuel ini harus dibuat sebelum para pemain menjadi terlalu tua untuk peran yang mereka bawakan.
Film ini banyak mendapat pujian dari para kritikus film. Permainan keempat pemeran utama dalam sekuel kedua ini jauh lebih baik. Penggunaan special effect dan dan penggarapan setting pun jauh lebih menarik untuk dinikmati. Bila dibanding dengan sekuel pertamanya, film ini terasa lebih suram dan tak lagi menampakkan unsur keluguan seperti sebelumnya.

30 Days of Night



30 DAYS OF NIGHT
Film yang bercerita tentang manusia dan vampir ini mengambil setting di kota Barrow di negara bagian paling utara Amerika yaitu Alaska. Setiap kali memasuki musim dingin, Barrow adalah wilayah yang terputus dari peradaban. Selama 30 hari, distrik paling utara di Alaska itu menjalani 'rutinitas' rutin, yaitu terisolasi dari negeri induk mereka, Amerika Serikat, akibat badai salju yang merintangi jalur transportasi dan komunikasi.
Tak hanya badai salju, kota ini juga akan mengalami kegelapan panjang selama 30 hari. Hal ini memungkinkan terjadi karena perputaran poros bumi mengalami pergeseran sekian derajat setiap tahunnya sehingga mengakibatkan beberapa bagian utara bumi tidak mendapatkan sinar matahari.

Setelah berabad-abad tinggal dalam kegelapan, setiap pagi bersembunyi agar tidak musnah oleh sinar matahari, vampir merasa menemukan tempat baru di mana mereka bisa melanjutkan hidup abadinya tanpa merasa kelaparan. Segelintir kaum terkutuk yang tersisa dan masih bertahan di bumi ini juga tak perlu lagi bersembunyi meski pagi menjelang.

Menjelang kegelapan datang, terjadi kematian misterius anjing-anjing peliharaan dan rusaknya sebuah helikopter. Tak hanya itu, petugas penjaga gardu listrik tewas dengan kepala terpenggal dan pasokan listrik dan komunikasi terputus.

Sebelumnya, sheriff Eben Oleson (Josh Hartnett) menemukan beberapa ponsel milik penduduk yang hilang ditemukan telah berubah bentuk menjadi arang. Kecurigaan jatuh ke seorang pendatang yang tidak diketahui namanya (Ben Foster), setelah ia melakukan sebuah insiden di kafetaria setempat.

Ketiadaan sinar matahari dan listrik menjadi keuntungan para vampir untuk menguasai kota. Sang sheriff pun menentukan status berbahaya bagi Burrow. Dia meminta penduduk untuk tidak meninggalkan rumah dan berjaga-jaga dengan senjata mereka.

Namun semua sia-sia, para vampir pun dengan mudah menebar teror di kota ini tanpa ada kesempatan bagi penduduk untuk menyelamatkan diri atau meminta bantuan dari luar. Dalam sebuah serbuan kilat, vampir-vampir itu membantai seluruh penduduk kota tanpa pandang bulu. Dari anak kecil hingga lanjut usia.
Makhluk berkuku panjang itu menggigit, menghisap darah, bahkan sebelumnya menyiksa para korbannya. Mereka juga sengaja tidak menjadikan penduduk kota menjadi seperti mereka, karena mereka menganggap manusia hanya sebagai santapannya saja. Dengan kejam, mereka membantai manusia, Barrow pun menjelma kota mati dengan mayat bergelimpangan, hingga tersisa hanya beberapa saja.

Di antara yang tersisa ini, terdapat Eben Oleson, Stella Oleson (Melissa George), Jake Oleson (adik Eben), dan para kawan-kawannya. Mereka harus bertahan hidup selama 30 hari hingga badai salju lewat dan cahaya matahari kembali menyinari.

Sebuah duel tak seimbang terjadi antara Eben dan pimpinan vampir, Marlow (Danny Huston) pada malam terakhir. Mampuhkah Eben menyelamatkan kawan-kawanya dari serangan vampir? Bagaimana nasib Eben?
Film yang diadapatasi dari sebuah novel grafis (komik) berjudul sama karya penulis Steve Niles dan digambar oleh Ben Templesmith yang diterbitkan oleh IDW Comics pada tahun 2002 ini disutradarai oleh David Slade yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video klip.

30 DAYS OF NIGHT adalah pentas kekejian para vampir, begitu dingin dan kejam. Bagi penyuka film dengan cipratan darah, kepala terpenggal, dan kekejaman tiada tara, film ini sangat sesuai. Apalagi efek blood and gore yang dibuat benar-benar bagus sehingga menimbulkan rasa jijik dan ingin muntah. Sayangnya ada beberapa pertanyaan mendasar yang tidak terjelaskan, seperti sebenarnya siapa vampir-vampir ini? Dari mana mereka berasal?

Jadi buat yang tidak suka darah, lebih baik menonton film yang lain. Bagi yang suka darah, jangan mengajak anak di bawah umur.

The Happening



THE HAPPENING
Virus aneh yang menyebar lewat udara menyerang kota Philadelphia. Tak ada yang bisa lolos dari serbuan virus aneh ini. Korban telah berjatuhan di banyak tempat. Virus aneh ini membawa dampak buruk buat manusia. Yang tertular virus ini akan melakukan bunuh diri bahkan tanpa sebab yang jelas.

Elliot Moore (Mark Wahlberg) seorang guru ilmu pengetahuan alam berusaha membawa istrinya Alma (Zooey Deschanel) melarikan diri dari wabah yang belum jelas asal-usulnya itu. Dengan mengendarai mobil menuju luar kota, Elliot berharap selamat dari wabah itu. Atau setidaknya untuk sementara waktu.

Tidak ada yang tahu pasti seberapa jauh virus itu telah menyebar, dan masih adakah tempat yang aman untuk berlindung dari serbuan virus ganas tersebut. Bahkan pihak berwenang pun tidak mengetahui asal muasal virus ini dan bagaimana cara bekerjanya.

Sutradara M Night Shyamalan memang sering menggali topik-topik yang tidak umum. Film-film karyanya cenderung membuat penonton berpikir keras akan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Film ini juga bukan pengecualian. Ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan Shyamalan dalam balutan cerita horor ini.

Sayangnya, beberapa detail dari film ini justru membuat orang semakin bingung dan tak mengerti jalan cerita dari film ini. Entah karena kesengajaan atau karena kesalahan memasukkan detail yang malah tak bisa dijawab oleh ending cerita, yang jelas ada beberapa scene yang jadi tak logis lagi dalam jalinan cerita.
Mungkin ada penonton yang berharap bahwa Shyamalan akan 'menipu' mereka lagi seperti dalam kasus film THE SIXTH SENSE. Tapi saat film berakhir, tak ada kesimpulan yang menjawab semua pertanyaan yang ada di sepanjang film. Dan yang jelas tak ada twisted plot seperti dalam THE SIXTH SENSE.

Peran Mark Wahlberg dan Zooey Deschanel pun tak terlalu mengagumkan dalam film ini. Bahkan dialog-dialog yang mereka bawakan terdengar cukup konyol dan tak alami. Entah karena Mark yang tak mampu menghayati naskah atau sang sutradara yang tak bisa mengarahkan aktor dan aktris dalam membawakan dialog tersebut.

Akhirnya film ini tak jauh beda dengan THE VILLAGE dan LADY IN THE WATER yang mengecewakan. Atau mungkin dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna dan memahami cara berpikir M Night Shyamalan agar bisa menikmati film ini.

Saw V



SAW V
Jigsaw (Tobin Bell) mungkin sudah tewas, namun tampaknya pewarisnya akan segera melanjutkan misi si jenius Jigsaw untuk melakukan pembunuhan dengan menggunakan jebakan-jebakan maut.

Setelah semua korban gagal melalui ujian yang diberikan oleh Jigsaw dan berakhir tewas dengan cara mengenaskan dalam jebakan yang dibuat Jigsaw, sekarang semuanya terserah detektif Hoffman (Costas Mandylor) untuk melanjutkan misi Jigsaw.

Bagian kelima dari sekuel SAW ini rencananya akan dilepas Lionsgate sekitar Oktober mendatang. Masih seperti 4 film sebelumnya, sang sutradara David Hackl masih menyuguhkan jalan cerita berbelit-belit, ketegangan, dan darah yang berceceran di mana-mana. Bagi yang tak tahan melihat darah, film ini bukan untuk Anda.

The House Bunny



THE HOUSE BUNNY
Shelley Darlington (Anna Faris) adalah seorang waitress di Playboy Club. Selama 9 tahun terakhir, Shelley tinggal di Playboy Mansion atau tempat tinggal Hugh Hefner sang pemilik majalah Playboy. Namun karena usia yang tak lagi muda, Shelley akhirnya didepak oleh para Playboy Bunny (waitress) lain yang tinggal di sana.

Karena selama ini Shelley tak pernah punya keterampilan lain dan tak punya banyak tabungan, Shelley terpaksa harus berkeliaran di jalanan kota Los Angeles. Nasib membawa Shelley ke sebuah rumah tempat perkumpulan mahasiswi bernama Zeta Alpha Zeta.

Ketujuh mahasiswi yang tinggal di sana terancam diusir dari asrama mereka oleh kelompok mahasiswi lain dan hanya Shelley yang mampu melindungi ketujuh orang mahasiswi itu dari ancaman kelompok Phi Iota Mu. Saat para wanita itu semakin dekat, maka mau tak mau mereka harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi diri mereka sendiri.

Menilai sebuah film komedi kadang memang tak mudah. Banyak faktor seperti tingkat pendidikan, budaya, selera, bahkan sampai wawasan sangat menentukan lucu atau tidaknya sebuah film humor. Begitu juga dengan film THE HOUSE BUNNY ini. Film seperti ini sebenarnya punya potensi menjadi lucu namun di sisi lain ia juga berpeluang untuk jadi membosankan.


Dari sisi cerita, sebenarnya tak ada yang baru dalam film ini. Ide dasar film ini bisa jadi sangat mirip dengan film LEGALLY BLONDE atau CLUELESS yang juga berkisah tentang 'petualangan' gadis berambut pirang yang di Amerika sana selalu diidentikkan dengan 'tak punya otak'. Kelucuan yang coba ditampilkan sebenarnya lebih bersifat harfiah dan pada saat film berakhir, kelucuan itu sudah tak lagi lucu.

Logika juga bukan salah satu pilihan untuk menilai film seperti ini. Kalau Anda perhatikan benar-benar, sebenarnya banyak hal yang tak logis yang ditampilkan film ini namun harus dimaklumi bahwa kadang itu memang bukan salah satu pertimbangan sang sutradara dalam membuat film-film seperti ini.


Yang cukup menarik dari film ini justru adalah akting Anna Faris yang berperan sebagai Shelley Darlington. Film komedi memang bukan barang baru bagi Anna. Aktris ini juga tampil dalam franchise SCARY MOVIE. Setelah cukup lama berperan sebagai gadis 'bodoh' dalam SCARY MOVIE, bisa dibilang penampilan Anna dalam THE HOUSE BUNNY jauh lebih baik. Sayangnya itu tak diimbangi dengan naskah film yang seimbang. Akibatnya, di beberapa adegan potensi yang dimiliki Anna Faris memang seolah sia-sia.

Terlepas dari itu semua, sebuah film humor memang tak bisa dianggap sukses bila tak mampu memancing tawa. Dengan parameter itu, maka bagus tidaknya film ini kembali pada sesuai atau tidaknya jenis humor yang ditawarkan dengan selera Anda. Sebagai sebuah hiburan yang tak memerlukan banyak pemikiran, film ini layak juga dijadikan pertimbangan.

My Bloody Valentine




MY BLOODY VALENTINE
Tom Hanniger (Jensen Ackles) sebenarnya adalah seorang penambang batu bara yang baik. Ia tak pernah berencana membunuh siapa pun. Sayangnya satu kecerobohan yang ia buat akhirnya malah mengakibatkan tewasnya lima orang penambang lain dan menyebabkan Harry Warden (Richard John Walters) mengalami koma.

Satu tahun kemudian, Warden tiba-tiba bangun dan membalas dendam pada orang-orang yang dianggapnya telah menyebabkan penderitaan yang ia alami. Dua puluh dua orang harus mati di tangan Warden sebelum akhirnya pria ini menghembuskan nafas terakhirnya.

Sepuluh tahun kemudian, Tom Hanniger kembali ke kota kecil Harmony dan berusaha menebus kesalahan yang ia lakukan sepuluh tahun sebelumnya. Namun sayangnya kedatangan Tom di kota kecil ini diikuti serangkaian kematian yang membangkitkan kenangan lama kota ini.

Film slasher berformat 3 dimensi ini sebenarnya adalah remake dari film sama yang beredar tahun 1981. Lionsgate, akan mengedarkan film hasil arahan sutradara Patrick Lussier ini sekitar pertengahan Januari 2009 nanti

Slumdog Millionare



SLUMDOG MILLIONARE
Tak ada yang mengira kalau Jamal Malik (Dev Patel) akan segera menjadi orang kaya. Jamal adalah seorang remaja yatim piatu yang tinggal di kawasan kumuh kota Mumbai. Namun secara misterius, remaja berusia 18 tahun ini dapat dengan mudah melangkah menuju babak terakhir kuis yang berhadiah 20 juta Rupee.

Satu per satu pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara kuis Who Wants To Be A Millionaire? versi India ini dijawab Jamal dengan baik. Ini memicu spekulasi bahwa Jamal telah berbuat curang dan karenanya pihak kepolisian datang untuk menghalangi Jamal menjadi pemenang.

Jamal kemudian berusaha mati-matian membuktikan bahwa ia tak pernah melakukan kecurangan dalam kuis ini. Maka mulailah Jamal menceritakan kehidupan sehari-harinya dan apa yang dialaminya selama tinggal di kawasan kumuh kota Mumbai termasuk cintanya pada Latika (Freida Pinto). Dari setiap babak kisah Jamal, terkuak misteri bagaimana Jamal bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan kuis yang cukup rumit ini.
Apa sebenarnya yang diinginkan Jamal dengan mengikuti kuis ini?

Film hasil arahan sutradara Danny Boyle ini mencoba bercerita tentang kisah asmara dengan latar belakang kehidupan di kawasan kumuh kota Mumbai di India.

Transporter 3



TRANSPORTER 3
Frank Martin (Jason Statham) mau tak mau harus menjalankan tugas yang diberikan kepadanya meski kali ini tugas itu jauh lebih tinggi resikonya. Frank harus mengantar paket ke tujuan yang belum jelas sementara di saat yang sama Frank juga harus mempertaruhkan nyawa lantaran di pergelangan tangannya di pasang gelang yang akan meledak jika ia berada di lokasi yang terlalu jauh dari mobilnya.


Kali ini paket yang harus diantarkan Frank adalah seorang gadis bernama Valentina (Natalya Rudakova). Valentina adalah putri seorang politisi kuat di sebuah negara di benua Eropa. Valentina diculik komplotan mafia dan memaksa Frank untuk mengantarkan ke sebuah lokasi yang akan dijelaskan saat Frank sudah berada dalam perjalanan.

Dalam perjalanan panjang yang berbahaya ini Frank tidak hanya berusaha untuk tetap 'dekat' dengan mobilnya namun juga harus menghindar dari orang-orang yang dikirim Leonid Vasilev (Jeroen Krabbe), ayah Valentina yang berusaha menggagalkan misi Frank.

Installment ketiga dari TRANSPORTER ini masih mengusung cerita yang tak jauh berbeda dengan dua film sebelumnya. Ide cerita yang diusung pun bisa dikatakan jauh dari kata fresh. Beberapa film lain dari genre film laga juga mengusung alur cerita yang kurang lebih sama meski dengan beberapa bumbu yang membuatnya sedikit saja beda.


Jadi, satu-satunya pilar film ini adalah aksi laga tanpa henti yang memang jadi suguhan utama film ini. Dari awal hingga akhir bisa dibilang hanya suguhan full action saja yang disajikan film ini. Bahkan saking inginnya menyajikan aksi laga yang spektakuler, sang sutradara sampai mengabaikan konsep ketaatan pada logika yang mau tak mau sebenarnya harus menjadi dasar sebuah film.

Bila Anda teliti atau meluangkan sedikit waktu untuk 'meneliti' tiap-tiap adegan, Anda pasti akan menemukan banyak sekali kejanggalan yang membuat alur cerita film ini jadi kehilangan pijakan. Setidaknya Anda akan merasakan bahwa beberapa adegan, alur cerita atau penokohan jadi tak masuk akal.


Singkatnya, bisa dibilang bahwa alur cerita film ini hanya dibuat untuk menyatukan serangkaian aksi laga yang disajikan film ini sementara dari sisi akting, para pemainnya juga tak terlalu meyakinkan. Entah karena naskah yang buruk atau para aktor yang tak mampu 'menghidupkan' dialog, tapi ada kesan bahwa para aktor hanya sekedar membaca naskah yang telah disusun sebelumnya.

Tapi meskipun begitu, toh film yang diedarkan Lionsgate ini berhasil masuk jajaran 10 besar film-film box office dan telah mengantongi tak kurang dari US$29 juta sejak diedarkan 26 November lalu. Kabarnya film ini dibuat dengan biaya sekitar US$45 juta.

Bedtime Stories



BEDTIME STORIES
Skeeter Bronson (Adam Sandler) mungkin bukan termasuk contoh orang yang sukses. Pekerjaannya sebagai teknisi di sebuah hotel tak terlalu menjanjikan masa depan buat Skeeter. Namun semuanya tiba-tiba saja berubah saat Skeeter menemukan satu bakat 'unik' yang dimilikinya.


Tanpa disadari, semua cerita yang dibacakan Skeeter untuk kedua keponakannya tiba-tiba secara ajaib menjadi kenyataan. Skeeter yang 'membaca' peluang emas ini kemudian mengarang-ngarang cerita dengan maksud mengambil keuntungan dari bakat anehnya ini. Skeeter bermaksud mengambil alih posisi Kendall (Guy Pearce) sebagai manajer hotel.
Sayangnya, 'campur tangan' kedua keponakannya mengubah rencana menuju kesuksesan ini menjadi malapetaka yang tak terbayangkan. Kini Skeeter harus berusaha keras untuk 'memperbaiki' semua kerusakan yang secara tak langsung telah ia lakukan.

Dunia dongeng memang tak pernah berhenti menjadi daya tarik buat anak-anak, bahkan mereka yang sudah dewasa. Dan peluang inilah yang mendasari film hasil arahan sutradara Adam Shankman ini. Waktu peluncuran film ini pun terasa tepat karena pada liburan panjang akhir tahun biasanya seluruh keluarga punya waktu luang cukup banyak untuk nonton film.

Namun meski film ini dibuat untuk 'ramah' anak kecil, bukan berarti bahwa orang dewasa tak dapat menikmati film ini. Humor-humor segar yang muncul dari kekonyolan Adam Sandler masih cukup relevan untuk dikonsumsi seluruh keluarga. Hasilnya, film ini memang pas dikonsumsi seluruh keluarga di penghujung tahun 2008 ini.

Soal akting, para pendukungnya memang tak perlu lagi diragukan. Sukses memerankan tokoh yang dirundung kesialan seperti dalam film LITTLE NICKY atau ANGER MANAGEMENT membuat Adam Sandler terlihat 'pas' memerankan tokoh Skeeter dalam film ini. Yang agak disayangkan mungkin adalah Guy Pearce yang agaknya kurang pas dipasang sebagai pemeran karakter Kendall.


Yang tak kalah menariknya justru adalah penampilan dua bintang cilik Laura Ann Kesling dan Jonathan Morgan Heit yang terlihat begitu wajar memerankan dua keponakan Skeeter. Sementara Russell Brand yang pertama kali tampil dalam film FORGETTING SARAH MARSHALL juga terlihat 'enjoy' berperan sebagai Mickey.

Jangan berharap ada logika karena film ini memang adalah sebuah dongeng sebelum tidur. Dan seperti kebanyakan dongeng sebelum tidur, banyak hal mustahil yang bisa saja terjadi. Terlepas dari itu, Adam Shankman, sang sutradara mampu mengolah ide cerita sederhana namun liar ini menjadi sebuah tontonan happy ending yang layak jadi tontonan penutup tahun ini.

Chandni Chowk to China



CHANDNI CHOWK TO CHINA
Sidhu (Akshay Kumar) adalah seorang pemuda yang tinggal di area Chandni Chowk di Delhi. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pembantu juru masak di sebuah restoran di sana. Suatu hari, dua orang yang datang dari negeri China datang membawa kabar yang akan mengubah hidup Sidhu selama ini.

Dua orang ini yakin bahwa Sidhu adalah reinkarnasi dari pendekar sakti dari jaman dulu yang ditakdirkan untuk menumpas kejahatan. Dua orang ini datang jauh-jauh dari China karena mereka mencari orang yang tepat untuk membantu mereka. Kebetulan di tempat tinggal mereka ada seorang pendekar sakti bernama Hojo (Gordon Liu) yang menindas warga di sana.

Dengan bantuan Chopstick (Ravnir Shorey), dua orang ini akhirnya berhasil meyakinkan Sidhu dan mengajaknya berangkat ke China untuk menumpas kejahatan. Berhasilkah Sidhu memenuhi ramalan dua orang ini dan menjadi pahlawan pemberantas kejahatan?
Setelah Hong Kong, kini giliran India yang jadi sasaran film Hollywood. Meski ini bukan pertama kalinya dunia barat menggarap film ber-setting, namun jaraknya yang tak terlalu jauh dari SLUMDOG MILLIONAIRE membuat film ini seolah mengisyaratkan bahwa Hollywood kini mulai melirik Bollywood. Sementara buat Warner Bros. Pictures, ini adalah film Bollywood kedua yang mereka garap. Konon, Warner Bros. mengedarkan film ini di lebih dari 120 teater di Amerika dan menjadi film Bollywood pertama yang diedarkan seluas itu.
Bagi pasar Amerika, film ini punya tantangan tersendiri lantaran pasar yang berbeda total. Pasar Amerika mungkin terbiasa menilai film dari kedekatannya dengan logika atau kenyataan. Kualitas film Hollywood ditentukan pada ketaatannya pada logika umum atau setidaknya logika yang dibuat oleh film itu sendiri. Hal yang sama tak bisa diterapkan pada film-film Asia atau lebih tepatnya film Bollywood.

Bagi penonton di Indonesia sendiri, film semacam ini mungkin tak terlalu asing karena pada dasarnya film Indonesia pun dibuat pada pijakan yang sama dengan film Bollywood atau film Hong Kong. Dan ini membuat film ini jadi lebih tepat untuk konsumen di Indonesia. Malahan untuk konsumen film Indonesia, CHANDNI CHOWK TO CHINA ini jadi terasa 'berbeda' lantaran memadukan tiga unsur dalam satu kemasan: Bollywood, Hong Kong sekaligus Hollywood.

Secara umum, film ini bisa dibagi menjadi dua bagian yang saling bertolak belakang. Bagian pertama menampilkan karakter Sidhu yang konyol dengan sentuhan lagu dan tarian ala film-film Bollywood. Di sini, karakter Sidhu mungkin bisa disebut perpaduan antara Adam Sandler dengan Sacha Baron Cohen. Pada bagian kedua, nuansa film berubah menjadi lebih suram dengan karakter Sidhu yang mulai berlatih Kung Fu dan berusaha mati-matian mengalahkan Hojo.

Dan untuk bagian kedua ini, para penggemar film-film mandarin akan dimanjakan dengan koreografi tarung yang cukup menarik. Jelas saja menarik lantaran penataan tarung film ini dipercayakan pada Huen Chiu-Ku yang juga ikut andil dalam pembuatan film-film sukses macam CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON dan THE MATRIX.

Terlepas dari bagus atau tidaknya, film ini jadi semacam pembuktian bahwa dunia timur pun cukup layak bermain di dunia film internasional. Bisa jadi, langkah selanjutnya adalah film Indonesia yang berlaga di pentas internasional. Kita tunggu saja.

Vicky Cristina Barcelona



VICKY CRISTINA BARCELONA
Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) adalah dua sahabat yang sedang berkunjung ke kota Barcelona untuk berlibur. Meski keduanya bersahabat baik, namun Vicky dan Christina adalah dua orang wanita yang berbeda jauh dalam karakter.
Vicky adalah wanita yang lebih bersikap tradisional jika menyangkut masalah asmara sementara Christina lebih bersikap 'bebas' meski ia sendiri kadang tak tahu apa yang ia inginkan. Keduanya lantas bertemu seorang seniman bernama Juan Antonio (Javier Bardem) dalam sebuah pameran seni.

Dalam waktu singkat, Juan Antonio dapat memikat Christina yang dari semula memang sudah tertarik dengan pria ini. Juan kemudian mengajak kedua wanita ini untuk berlibur di Oviedo. Christina serta-merta menerima ajakan ini sementara Vicky berusaha untuk menolak meski akhirnya ia pun ikut berangkat dengan harapan bisa menjauhkan Christina dari masalah karena ia melihat ada gelagat buruk pada diri Juan Antonio.

Selama berlibur di Oviedo, Christina justru jatuh sakit dan kesempatan ini membuat Vicky dan Juan Antonio jadi malah semakin dekat. Kisah asmara segi tiga ini jadi semakin rumit dengan munculnya María Elena (Penelope Cruz), mantan istri Juan Antonio.

Film hasil arahan sutradara Woody Allen ini mengambil lokasi syuting di beberapa kota Spanyol. Sebagian dana produksi bahkan disandang oleh pemerintah kota Barcelona dan Catalonia. Total biaya produksi film yang dinominasikan piala Oscar ini dikabarkan mencapai US$15 juta.

Seperti pada kebanyakan film arahan Woody Allen, film ini juga dilengkapi dengan bumbu seks meski tak seperti pada film-film sebelumnya. Di sini cinta dan seks seolah berbaur dan tak jelas batasannya. Masing-masing tokoh dalam film ini saling terlibat hubungan romantis namun tak sepenuhnya jelas apakah hubungan itu murni karena seks atau ada cinta di balik semua itu.

Rumitnya hubungan keempat tokoh yang ada dalam film ini pun dengan baik dapat diterjemahkan oleh para aktris dan aktor pendukung film ini menjadi sebuah ekspresi dan dialog yang alami. Mungkin ini tak terlalu mengherankan mengingat reputasi para pendukung film ini. Nama Scarlett Johansson dan Penelope Cruz jelas bukanlah nama baru di dunia film, sementara Javier Bardem adalah pemegang gelar aktor terbaik Oscar 2008 lalu.
Dan kekuatan naskah yang dipadu dengan akting first-class ini jadi makin terasa lengkap dengan backdrop pemandangan cantik di kota Barcelona yang seolah makin menambah suasana 'panas' yang coba dibangkitkan film ini.

2012: Doomsday


2012; DOOMSDAY

Dalam kalender bangsa Maya disebutkan bahwa kehidupan di dunia ini akan musnah pada tahun 2012. Pada saat itu, dunia akan dilanda bencana besar dan kekacauan terjadi di mana-mana yang mengakibatkan musnahnya ras manusia. Jackson Curtis (John Cusack) yang yakin ramalan itu akan terjadi berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hal ini.

Berbekal pengetahuannya tentang ramalan kuno itu, penulis yang juga adalah seorang peneliti ini kemudian mencari cara untuk membuka portal antar dimensi untuk menemui 'dirinya yang lain' di dimensi itu. Jackson yakin bahwa menembus batas dunia paralel ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya bencana yang telah diramalkan bangsa Maya itu.

Masalahnya adalah Jackson harus melakukan itu sebelum tanggal 21 Desember 2012 karena dalam penanggalan Maya tak ada tanggal setelah tanggal itu. Mampukah Jackson menjalankan misi kemanusiaan itu dan mencegah terjadinya sesuatu yang telah digariskan sebelumnya?

Watchmen




WATCHMEN

Pemerintah AS yang semula membiarkan para superhero beraksi bebas, memutuskan untuk membubarkan kelompok superhero yang menamakan diri mereka Watchmen ini. Semua bekas anggota Watchmen kemudian di bebaskan dari tugas kecuali Edward Blake alias The Comedian (Jeffrey Dean Morgan) dan Dr. Jon Osterman atau yang lebih dikenal sebagai Doctor Manhattan (Billy Crudup).


Para superhero yang lain memutuskan untuk mengakhiri kisah kepahlawanan mereka dan mencoba beradaptasi menjadi masyarakat biasa. Di sisi lain, Walter Kovacs atau yang lebih dikenal sebagai Rorschach (Jackie Earle Haley) memutuskan untuk tetap memerangi kejahatan secara sembunyi-sembunyi.

Tak beberapa lama kemudian terjadi kasus misterius saat salah satu mantan anggota Watchmen yang bernama The Comedian ditemukan tewas dibunuh. Rorschach yakin kawannya ini dibunuh sebagai bagian dari rencana melenyapkan seluruh mantan anggota Watchmen yang tersisa. Tak satu pun percaya sampai Adrian Veidt yang punya identitas lain Ozymandias menghadapi usaha pembunuhan yang sama meski ia pada akhirnya lolos. Kini sisa anggota harus mulai bersatu atau mereka akan dibantai habis seperti dugaan Rorschach.


Film yang mengambil setting tahun 80-an ini adalah adaptasi dari komik karya Alan Moore dan Dave Gibbons yang hanya terdiri dari 12 seri. Walaupun Watchmen ini masih mengambil tema superhero namun hanya 1 orang dari kelompok ini yang memiliki kekuatan superhero. Lainnya hanyalah manusia biasa yang memerangi kejahatan dengan mengenakan kostum dan topeng.

Di Indonesia sendiri nama Watchmen pasti terdengar aneh karena komik-komik ini tak beredar di sini. Jadi bisa diasumsikan bahwa hampir semua penonton di Indonesia tak mengenal nama-nama anggota Watchmen. Ini membuat film yang diadaptasi dari komik ini jadi punya tantangan tersendiri karena dalam waktu 160 menit, film ini harus mampu membangun sebuah pemahaman tentang latar belakang semua tokoh, sekaligus memahami alur ceritanya.


Buat yang sudah membaca dua belas komiknya jelas tak akan terlalu sulit mengikuti alur film ini. Sayangnya hal yang sama tak bisa dikatakan buat mereka yang benar-benar asing dengan kisah ini. Terlalu banyaknya karakter juga tak membuat pemahaman ini jadi lebih mudah. Karakter yang coba diungkapkan lewat kilasan flashback sedikit membantu meski tak benar-benar mampu membangun ikatan antara sang tokoh dan penonton.

Zack Snyder yang menyutradarai film ini memutuskan untuk membuat film ini sedekat mungkin dengan sumber aslinya walaupun di akhir film ada sedikit penyimpangan dari versi komiknya. Suasana dibuat suram ala film BATMAN BEGINS dan THE DARK KNIGHT. Zack juga berusaha memunculkan konflik batin para superhero ini, sama seperti yang dilakukan Christopher Nolan pada Batman. Sayangnya mustahil menyorot mereka semua hanya dalam durasi 160 menit saja.

X-Mens Origins: Wolverine




X-MENS ORIGINS; WOLVERINE

Sebuah kejadian tragis mengungkap siapa sebenarnya Logan (Hugh Jackman) dan saudaranya Victor (Liev Schreiber). Kedua bocah bersaudara ini ternyata adalah mutan. Logan mampu mengeluarkan cakar tajam dari sela-sela jarinya sementara Victor memiliki kuku-kuku yang sangat kuat. Kejadian tragis itu membuat kedua bersaudara ini terpaksa lari dari rumah.


Masa lalu yang suram ini membuat Logan dan Victor tumbuh menjadi dua orang yang penuh amarah. Untuk melampiaskan amarah mereka, Logan dan Victor lantas bergabung dengan tentara. Berbagai pertempuran dilalui dua saudara yang tak bisa menjadi tua atau mati ini. Suatu ketika karena kesalahan Victor, rahasia mereka berdua sebagai mutan terungkap dan ini dimanfaatkan oleh Kolonel William Stryker (Danny Huston) yang berencana membentuk satu kesatuan khusus tentara super.

Di tengah perjalanan, Logan merasa jenuh dengan kekerasan yang mereka lakukan dan memutuskan keluar dari kesatuan. Ini jelas membuat Stryker tak senang, Stryker kemudian memanfaatkan Victor dan Kayla Silverfox (Lynn Collins) untuk membawa Logan kembali untuk sebuah percobaan maut menggunakan logam Adamantium yang kemudian mengubah Logan menjadi Wolverine.


Tipu daya yang dilakukan Stryker membuat Logan dendam pada Victor yang kemudian berganti nama menjadi Sabretooth. Namun di saat rencana Stryker menjadi berantakan tak ada pilihan lain buat Stryker selain membangunkan Weapon XI (Scott Adkins) yang merupakan hasil eksperimen menggabungkan semua kekuatan mutan yang ada.

Seperti biasa, film hasil adaptasi dari komik atau video game selalu menuai kritik pedas dari para pecinta sumber aslinya ini dan film X-MEN ORIGINS: WOLVERINE ini juga bukan pengecualian. Banyak penggemar komik Wolverine yang merasa kecewa dengan hasil adaptasi ini karena dianggap tak bisa menerjemahkan karakter Wolverine ke layar lebar. 'Penyesuaian' memang tak bisa dihindari oleh sutradara dan penulis naskah film untuk membuat sebuah film adaptasi menjadi sebuah tontonan yang menurut mereka menarik.


Secara umum, film ini cukup menarik untuk ditonton. Latar belakang karakter utama dapat digambarkan dengan jelas meski di awal film, penggambaran masa kecil Wolverine dan Sabretooth sempat sedikit membuat bingung. Hugh Jackman mampu menampilkan kemarahan Logan dengan baik sementara Liev Chreiber yang berperan sebagai Victor juga juga sangat menjiwai tokoh 'pecinta kekerasan' ini dengan baik. Yang sangat disayangkan justru chemistry antara Logan dan Silverfox yang tak terbentuk dan terasa sedikit merusak motif Logan memburu Victor.

Namun di akhir kisah, tetap saja film bertempo cepat ini masih terasa menghibur. Terlepas dari konsisten atau tidak terhadap sumber aslinya, film hasil arahan Gavin Hood ini masih tetap sebuah film yang menarik. Mungkin yang agak sedikit mengganggu alur kisah hanyalah fakta bahwa film ini adalah prekuel dari trilogi X-MEn sehingga akhir cerita mau tak mau harus mengikuti awal dari trilogi ini.

The Sniper



THE SNIPER

Selama mendekam di penjara, Ching (Huang Xiaoming) tak pernah lupa pada kejadian yang membuatnya harus meringkuk di balik jeruji besi. Kian hari rasa benci itu tumbuh menjadi dendam yang harus terlampiaskan. Ketika hari pembebasan tiba, hanya satu hal yang ada di benak Ching - melampiaskan dendam lamanya.

Sebelum masuk penjara, Ching adalah seorang marksman yang menjadi pendamping sniper bernama Ming (Richie Ren). Karena satu kesalahan, Ching akhirnya mengakibatkan salah seorang sandera terbunuh. Meski pengadilan memutuskan bahwa kejadian itu adalah sepenuhnya kesalahan Ching, namun ia tetap menganggap bahwa Ming dan seluruh polisi adalah penyebab kejatuhannya.

Suatu ketika, Ming bertemu seorang polisi muda bernama O (Edison Chen) yang menurutnya memiliki bakat. Ming pun lantas merekrut O untuk menjadi partnernya. Di saat yang bersamaan, Ching yang telah bebas dari penjara sedang merencanakan pembalasan terhadap Ming dan seluruh petugas polisi yang ia anggap bersalah dan menghancurkan hidupnya.

Sepertinya ada yang salah dengan film berjudul THE SNIPER ini. Nama Richie Ren dan Edison Chen dipasang sebagai dua tokoh sentral dalam film ini tapi kalau mau sedikit teliti, karakter yang diperankan oleh Huang Xiaoming justru terasa lebih digarap ketimbang tokoh yang diperankan oleh Ren dan Chen. Atau mungkin pertimbangannya adalah popularitas Edison Chen jauh lebih mampu 'menjual' film ini ketimbang faktor lain.

Alur cerita yang diusung sangat sederhana layaknya kebanyakan film mandarin ber-setting modern. Sebenarnya ada kesempatan mengembangkan cerita ini lebih jauh. Ada beberapa celah yang masih bisa dibuatkan subplot namun dilewatkan begitu saja. Akhirnya yang terjadi adalah bahwa film berdurasi 90 menit ini terasa sebagai sebuah 'rangkuman' dan bukan film yang utuh. Beberapa karakter selain tiga orang ini juga terasa hanya lewat tanpa ada kesan.

Soal akting, tak terlalu jadi masalah karena kebanyakan film Asia memang selalu memasang aktor pada peran yang sudah melekat pada dirinya. Misalnya saja Edison Chen, di sini ia berperan sebagai karakter yang emosional dan sedikit arogan sama seperti kebanyakan peran yang pernah ia bawakan. Meski berjudul mirip, film ini masih jauh dari film SNIPER yang dibintangi Tom Berenger di tahun 1993 lalu.

Angels & Demons



ANGELS & DEMONS

Saat Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (Tom Hanks).

Langdon yang semula tak percaya bahwa persaudaraan Illuminati ini masih ada mau tak mau harus menerima kenyataan karena tak ada orang yang sanggup membuat tanda ambigram sempurna yang menjadi simbol Illuminati kecuali dari persaudaraan rahasia ini sendiri.
Petualangan kemudian membawa Langdon dan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) yang ingin mengetahui pembunuh ayahnya ke Vatican di mana persaudaraan Illuminati mengancam akan meledakkan kota suci ini dan membunuh semua orang di dalamnya. Satu-satunya cara melacak si pembunuh adalah dengan mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan sang anggota Illuminati dengan harapan dapat mencegah pembunuhan massal ini.

Sayangnya sang pembunuh hanya meninggalkan petunjuk di atas mayat para Kardinal yang telah ia bunuh satu per satu. Kini Langdon dan Vetra harus berpacu untuk mendahului sang pembunuh atau semua Kardinal yang diculik mati dan tak ada petunjuk mengenai lokasi peledak yang dipasang persaudaraan Illuminati ini.

Seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, penyesuaian mesti dilakukan karena keterbatasan durasi tayang dan lain sebagainya. Ini yang sering kali membuat para fans novel merasa kecewa dengan visualisasi dari tulisan yang sempat mereka baca sebelumnya. Film berjudul ANGELS AND DEMONS ini juga bukan pengecualian. Bila Anda sempat membaca novelnya, Anda pasti tahu bahwa ada beberapa fakta atau detail yang harus 'disesuaikan'. Terlepas dari segala 'penyesuaian' itu, film adalah sebuah karya yang layak dinilai sebagai dirinya sendiri.

Sebagai sebuah film, ANGELS AND DEMONS ini cukup mampu membawa inti permasalahan dari novel Dan Brown ke dalam bentuk visual. Ron Howard, sang sutradara sanggup membuat sebuah film yang cukup berimbang dan tak memihak mana pun. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan selama ada saling pengertian dan toleransi.
Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas. Ron Howard sepertinya juga tak mau mengulang kesalahan yang terjadi pada THE DA VINCI CODE dan menghilangkan unsur romantis yang sebelumnya sempat dikritik karena tak ada chemistry antara Tom Hanks dan lawan mainnya.

Tampilan visual dari Sistine Chapel, Pantheon, Gereja dan Makam terlihat sangat mengagumkan meski Howard harus melakukan pengambilan gambar bukan di tempat aslinya. Sebuah tontonan yang menarik selama Anda tak membanding-bandingkannya dengan versi novelnya.

17 Again



17 AGAIN

Bagaimana jadinya bila Anda yang berusia tiga puluhan tiba-tiba saja kembali menjadi remaja berusia tujuh belas tahun dan harus berjuang mati-matian menyesuaikan diri dengan lingkungan yang telah banyak berubah. Itulah yang terjadi pada Mike O'Donnell (Zac Efron).
Ketika masih di SMA, Mike adalah seorang remaja dengan masa depan cemerlang. Mike adalah atlet sukses dan mendapat bea siswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas terkenal. Sayangnya, di saat yang sama, Scarlett (Leslie Mann) hamil dan Mike harus segera membuat keputusan besar.

Yakin bahwa hidupnya akan bahagia bersama Scarlett, Mike kemudian memutuskan untuk menikahi Scarlett dan meninggalkan semua yang bisa ia miliki saat itu. Dua puluh tahun kemudian, Mike mulai meragukan pilihan yang ia buat saat itu. Rumah tangganya mulai berantakan dan ia memilih tinggal bersama Ned Freedman (Thomas Lennon) teman baiknya.

Suatu hari, ketika Mike sedang berusaha menolong seorang pria yang akan bunuh diri, tiba-tiba saja Mike mendapati dirinya berubah menjadi dirinya ketika berusia tujuh belas tahun. Bingung dan tak tau harus berbuat apa, ia kemudian meminta bantuan Ned yang untungnya bisa menerima kejadian aneh ini.

Ned kemudian berpura-pura menjadi ayah Mike dan mendaftarkan Mike ke sebuah SMA. Kini Mike harus mulai beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Parahnya lagi, ia ternyata harus berada di satu sekolah dengan Maggie (Michelle Trachtenberg), putrinya.
Ide mengulang masa lalu memang selalu menjadi ide yang menarik. Bukan apa, hampir semua orang pasti punya penyesalan dan ingin mengulang saat ia membuat kesalahan dan memperbaikinya. Itu memang solusi yang selalu terbayang saat menghadapi masalah berat. Itu juga yang membuat banyak orang film yang mencoba menuangkan ide ini ke dalam bentuk film. Tak sedikit film bertema ini yang sudah diproduksi sampai-sampai ide ini jadi tak menarik lagi.

Dan sepertinya Burr Steers, sang sutradara, juga tak bisa lepas dari pakem cerita soal mengulang masa lalu ini. Memang ada pesan yang disampaikan namun rasanya sudah basi untuk diulang-ulang lagi. THE BUTTERFLY EFFECT sempat membuat pencerahan dalam genre yang satu ini tapi itupun tak bertahan lama karena saat dibuat sekuelnya, ide itu jadi tak menarik lagi.

17 AGAIN ini bisa disebut versi ringan dari film-film yang mengusung tema serupa. Malahan bisa dibilang, film ini hanya dibuat untuk 'mengekspos' Zac Efron yang bisa dipastikan bakal menyedot banyak pengunjung gedung bioskop. Akting para pemeran biasa-biasa saja sementara alur cerita juga tak terlalu menarik. Akhirnya, yang tertinggal hanyalah 100 menit hiburan yang tak membebani otak.

Garuda di Dadaku



 GARUDA DI DADAKU

Jika Anda gemar mengajak keluarga nonton film di bioskop, GARUDA DI DADAKU layak Anda jadikan salah daftar film yang harus Anda tonton sekeluarga saat liburan sekolah. Film ini padat dan alurnya teratur karena hampir semua adegan memiliki kesinambungan tanpa ada loncatan sedikit pun. Untuk film yang didedikasikan bagi untuk keluarga, mulai anak-anak, remaja, dan orang tua alur yang datar tentu dapat dimaklumi.

Kisah Bayu, pemain utama yang diperankan oleh Emir Mahira, dalam mengejar mimpinya terpilih sebagai pemain nasional U13 mendapat tantangan keras oleh kakeknya Usman (Ikranegara). Alasannya, trauma atas meninggalnya ayah Bayu yang juga pemain bola.
Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.

Heri, sahabat Bayu yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.

Tak mendapat tempat untuk latihan pun tak jadi kendala. Kuburan yang diidentikkan sebagai tempat angker diubah menjadi tempat latihan yang menyenangkan. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu.

Puncaknya, saat kebohongan demi kebohongan Bayu diketahui oleh sang kakek, serangan jantung tak dapat dibendung. Persahabatan Bayu dan dua temannya juga terancam putus.
Film yang akan diluncurkan serentak di seluruh Indonesia pada 18 Juni 2008 ini menjadi film yang kesekian kalinya menyampaikan kritik kritik sosial kepada pemerintah Indonesia. Bahasa lugas ciri khas anak-anak tidak membuat film yang sebenarnya mengandung banyak makna ini menjadi berat.

Menghindari anak-anak bosan dan kehilangan makna atas film ini, sang sutradara Ifa Isfansyah tidak mau menekankan pesan moral yang hendak disampaikan dalam film ini. Setiap penonton, harapannya, memetik pesan moral yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi untuk liburan sekolah, layaklah kiranya Anda mengajak keluarga nonton film yang berdurasi 96 menit ini.

Harry Potter And The Half Blood Prince



HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE

Harry Potter (Daniel Radcliffe) menyadari bahwa ancaman Lord Voldemort belumlah usai. Walaupun keadaan cukup tenang dan aman namun Harry yakin bahwa musuh besarnya ini sedang merencanakan sesuatu. Harry bahkan yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam Hogwarts.

HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Bersama gurunya, Dumbledore (Michael Gambon) dan Professor Horace Slughorn (Jim Broadbent), Harry pun mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan terakhir dengan Voldemort. Di saat yang sama, Harry menemukan sebuah buku ramuan sihir milik seseorang bernama Half-Blood Prince. Dari buku ini, Harry kemudian mempelajari banyak ramuan sihir yang berguna bahkan beberapa cenderung membahayakan.

Di sisi lain, Harry yang mulai menginjak dewasa terlibat cinta segitiga antara Ginny Weasley (Bonnie Wright) dan Dean Thomas (Alfie Enoch). Kini tantangan yang dihadapi Harry jadi jauh lebih berat. Di saat ia mulai merasakan beratnya masa peralihan menjadi dewasa, ia harus mempersiapkan diri menghadapi Voldemort yang berencana menguasai seluruh dunia.
HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Secara umum, bagian keenam dari film Harry Potter ini terasa lebih suram daripada lima film sebelumnya. Baik dari nuansa cerita maupun dari teknik pewarnaan terlihat bahwa David Yates, sang sutradara, ingin menonjolkan kesan suram ini. Hampir di sepanjang film, warna-warna suram mendominasi dan malahan ada beberapa bagian yang cenderung mengarah ke film hitam putih.

Film ini juga menandai peralihan antara kisah remaja yang mulai bergeser masuk alam dewasa. Hubungan antar karakter digambarkan makin kompleks dan tak lagi sederhana seperti sebelumnya. Namun pergeseran ini juga yang membuat film ini jadi makin membingungkan buat penonton yang tak pernah terlibat dengan cerita Harry Potter sebelumnya. Ditambah lagi dengan beberapa bagian yang berkesan mengambang tanpa penjelasan, lengkap sudah masalah yang dihadapi penonton baru ini.

HARRY POTTER AND THE HALF BLOOD PRINCE
Di sisi lain, buat mereka yang sudah akrab dengan Harry Potter, film ini juga menjadi titik balik di mana film tak lagi sepenuhnya berpijak pada novel sumber aslinya. Kekecewaan para fans berat Harry Potter tak bisa disalahkan karena ada bagian penting dari novel ini yang tak dituangkan ke layar lebar.
Dari seluruh aspek yang ada, bisa jadi suguhan visual adalah bagian paling menarik dari film ini. Kelebihannya bukan dari canggihnya special effect yang digunakan namun pada efektivitas dari efek yang mereka gunakan. Meski tak terlalu muluk-muluk namun kesan yang tertangkap justru adalah kewajaran dalam keajaiban yang terjadi itu.